Estimated reading time: 6 minutes

Lambe Katy – Nama Ruben Onsu kembali menjadi bahan perbincangan. Kali ini, sorotan tertuju pada rumah mewah di kawasan Cilandak yang masih menyisakan cicilan bank lebih dari Rp12 miliar. Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Ruben menyatakan ogah melanjutkan pembayaran seorang diri. Ia meminta Sarwendah Tan ikut menanggung kewajiban tersebut.

Pernyataan itu langsung menarik perhatian karena rumah tersebut masih berkaitan dengan pembagian harta gana-gini setelah keduanya bercerai. Minola menyebut ada kesepakatan tertulis yang mengatur tanggung jawab Ruben dan Sarwendah.

Situasi semakin ramai setelah muncul gugatan wanprestasi dari pihak Sarwendah. Di sisi lain, keputusan Ruben menghentikan pembayaran justru memunculkan rumor bahwa kondisi keuangannya sedang bermasalah. Minola langsung membantah anggapan tersebut. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik polemik rumah Cilandak?

Ruben Tak Mau Terus Membayar Sendirian

Melalui Minola Sebayang, Ruben menyampaikan bahwa cicilan rumah Cilandak seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Menurut penjelasan sang pengacara, kesepakatan itu tercantum dalam Akta 39 yang dibuat setelah Ruben dan Sarwendah resmi bercerai. 

Isi kesepakatan tersebut menyebut pembayaran cicilan bank harus dilakukan kedua pihak sampai seluruh kewajiban lunas. Minola menjelaskan pembagian itu berlaku secara proporsional. Ia memberikan gambaran sederhana agar publik memahami maksud kesepakatan tersebut. 

“Pada Pasal 3 Akta 39 dijelaskan kewajiban pembayaran cicilan bank menjadi tanggung jawab kedua belah pihak hingga lunas. Artinya, kalau cicilan misalnya Rp300 juta, maka Rp150 juta akan menjadi kewajiban Ruben dan sisanya jadi beban si ‘S’,” tuturnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 6 November 2026.

Pernyataan tersebut menjadi dasar Ruben untuk meminta Sarwendah ikut membayar sisa cicilan. Minola menyebut kliennya sudah menanggung pembayaran rumah itu sepanjang 2024 hingga 2025. Dalam periode tersebut, menurut pihak Ruben, pembayaran dilakukan tanpa kontribusi dari Sarwendah.

Tawaran Patungan Ditolak, Ruben Minta Gantian

Polemik semakin menarik setelah kedua pihak disebut sempat membicarakan opsi pembayaran bersama dalam proses mediasi. Pihak Sarwendah menawarkan agar utang bank tersebut dibayar secara patungan. Namun, tawaran itu belum mendapat persetujuan dari Ruben.

Minola mengungkapkan respons Ruben terhadap ajakan tersebut. Ia menyampaikan bahwa kliennya merasa sudah cukup lama menanggung pembayaran seorang diri. “Ruben bilang, ‘Gantian dong. Gua sudah setahun sendiri bayarnya. Enggak ada tuh teriak-teriak. Sekarang lo ngajak fifty-fifty. Coba lo bayar saja dulu!’,” ucap Minola.

Ucapan itu memperlihatkan keberatan Ruben terhadap situasi yang berjalan selama ini. Dari sudut pandang pihaknya, permintaan patungan baru muncul setelah cicilan bermasalah. Ruben pun ingin Sarwendah lebih dulu menunjukkan kontribusi pembayaran, seperti yang selama ini ia klaim sudah dilakukan.

Di sisi lain, tim kuasa hukum Sarwendah sebelumnya menyebut kewajiban cicilan rumah berada di tangan Ruben. Perbedaan keterangan inilah yang membuat persoalan tersebut semakin sulit dipahami publik. Masing-masing pihak memiliki penjelasan sendiri mengenai siapa yang seharusnya membayar.

Minola Bantah Ruben Bangkrut

Keputusan Ruben menghentikan pembayaran cicilan ikut memunculkan dugaan bahwa kondisi keuangannya sedang bermasalah. Rumor kebangkrutan pun ikut beredar. Minola langsung membantah anggapan tersebut saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 5 November 2026.

“Kenapa menyetop pembayaran cicilan rumah malah diasosiasikan dengan tidak mampu? Enggaklah,” kata Minola. Ia menilai keputusan kliennya nggak bisa langsung diartikan sebagai tanda kesulitan finansial. 

Minola bahkan membandingkan situasi Ruben dengan Sarwendah. Ia mempertanyakan apakah pihak lain juga akan menyimpulkan hal serupa ketika seseorang nggak ikut membayar cicilan selama periode tertentu. 

“Apakah saya boleh bilang kalau ‘S’ juga tidak mampu secara finansial ketika dia tidak berpartisipasi dalam pembayaran cicilan rumah sepanjang tahun 2024-2025?” ungkapnya. Pernyataan tersebut menjadi respons atas spekulasi yang telanjur mengaitkan keputusan Ruben dengan kondisi ekonominya. 

Sertifikat Rumah Cilandak Masih Atas Nama Ruben

Selain cicilan, status kepemilikan rumah di kawasan Cilandak juga ikut menjadi perhatian. Minola mengingatkan agar pihak Sarwendah nggak terburu-buru menyebut rumah tersebut sudah sepenuhnya menjadi miliknya. 

“Dari mana ceritanya itu milik Sarwendah? Itu harta gana-gini dan sertifikatnya masih atas nama Ruben Onsu. Walaupun Akta 39 menyebut disepakati untuk S, tidak otomatis langsung jadi milik dia sebelum ada proses balik nama setelah dilunaskan,” tutur Minola Sebayang.

Pernyataan itu menambah babak baru dalam polemik rumah yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka. Minola menekankan adanya perbedaan antara kesepakatan pembagian harta dan proses administrasi kepemilikan. 

Sampai saat ini, keterangan mengenai rumah dan cicilan masih disampaikan melalui masing-masing pihak. Oleh sebab itu, klaim soal siapa yang paling berhak atau siapa yang paling bertanggung jawab perlu dilihat berdasarkan dokumen dan proses yang menjadi rujukan kedua kubu.

Ruben Tetap Santai Saat Aksi Boikot Muncul

Di tengah persoalan rumah, Ruben juga menghadapi sorotan lain. Pada Kamis, 5 November 2026, sejumlah orang menggelar demonstrasi di depan salah satu gedung televisi swasta di kawasan Tendean, Jakarta Selatan. Massa meminta stasiun televisi menghentikan pemberian panggung kepada Ruben.

Aksi tersebut turut membawa spanduk bertuliskan “Boikot Ruben Onsu: Jangan Beri Ruang untuk Ruben Onsu di Seluruh Media”. Kabar demonstrasi itu kemudian ramai dibicarakan di media sosial. Minola menyebut aksi menyampaikan pendapat merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, keputusan tetap berada di tangan pihak stasiun televisi.

Menurut Minola, Ruben memilih menjalani aktivitas seperti biasa. Ia juga membantah kliennya merasa takut kehilangan pekerjaan akibat desakan tersebut. “Enggak, enggak takut dia. Kalau takut kan postingannya udah nangis-nangis melulu. Sini kan enggak, tetap aja menjalankan kegiatannya dengan baik,” ujar Minola.

Sang pengacara turut menyampaikan pandangan Ruben mengenai pekerjaan dan rezeki. Ia menyebut kliennya percaya bahwa semua yang dimiliki manusia merupakan titipan Tuhan. Jika suatu pekerjaan memang bukan lagi menjadi bagian dari jalannya, Ruben diyakini akan mendapat kesempatan lain.

Ruben Singgung Sosok di Balik Demo

Ruben sendiri akhirnya menanggapi demonstrasi tersebut melalui akun Threads. Ia mengaku sudah mengetahui pihak yang diduga berada di balik aksi itu. Dalam unggahannya, Ruben juga menyertakan tangkapan layar percakapan grup WhatsApp yang diduga berkaitan dengan koordinasi demonstrasi.

“Tenang deh, enggak usah ngomong, kita udah tahu kok dalangnya. Kalau ada yang mau ikut info ke mana untuk demo?” tulis Ruben pada Kamis, 5 November 2026. Ia kemudian menyoroti informasi mengenai pakaian yang disebut menjadi dresscode peserta aksi.

Dengan nada bercanda, Ruben menulis, “Seru juga pake dresscode nih ye.” Ia juga menyelipkan komentar tentang isu lain yang menurutnya lebih penting untuk mendapat perhatian publik. Meski begitu, Ruben nggak menyebut nama orang yang ia maksud sebagai dalang demonstrasi tersebut.

Unggahan itu langsung memancing rasa penasaran warganet. Sebagian pengguna media sosial ikut mempertanyakan tujuan demonstrasi setelah beredar video yang memperlihatkan seorang peserta mengaku nggak mengetahui alasan aksi tersebut. Namun, identitas pihak yang disebut Ruben masih belum diungkap secara terbuka.

Polemik Ruben dan Sarwendah Masih Berlanjut

Persoalan cicilan rumah Cilandak kini berjalan beriringan dengan sorotan terhadap pekerjaan Ruben di televisi. Dalam satu waktu, publik membicarakan permintaan Ruben agar Sarwendah ikut membayar sisa utang bank. Pada waktu yang sama, demonstrasi dan unggahan Threads sang presenter ikut menambah ramai pemberitaan.

Pihak Ruben melalui Minola menegaskan bahwa penghentian pembayaran bukan disebabkan ketidakmampuan finansial. Mereka menyebut langkah tersebut sebagai bentuk keberatan karena cicilan yang dianggap sebagai kewajiban bersama selama ini ditanggung satu pihak. 

Sementara itu, pihak Sarwendah sebelumnya menyampaikan pandangan berbeda mengenai tanggung jawab pembayaran. Belum ada titik akhir yang bisa disimpulkan dari polemik ini. Publik masih menunggu bagaimana kelanjutan pembahasan cicilan, status rumah, dan gugatan yang telah diajukan.

Sumber: hot.detik.com