Estimated reading time: 5 minutes
Lambe Katy – Isu Betrand Peto memanas usai sosok pelapor berinisial ANW dikabarkan mengalami trauma psikologis yang berat di luar persidangan. Tekanan batin yang dialami oleh ANW semakin parah tatkala identitas pribadinya dibongkar oleh deretan akun anonim.
Perundungan digital yang datang bertubi-tubi membikin kondisi emosional perempuan berusia 26 tahun tersebut kian terpojok dan memprihatinkan. Kejadian ini membuktikan betapa kejamnya opini liar sebelum fakta hukum sebenarnya terbukti di kantor polisi.
Pihak kuasa hukum korban mendapati kenyataan pahit bahwa kliennya sempat berada dalam titik terendah hingga tercetus pikiran sangat nekat. Situasi yang nggak terkendali ini mendorong tim pengacara untuk mengambil langkah darurat guna menyelamatkan korban.
Kehidupan ANW mendadak berubah menjadi mimpi buruk menakutkan usai keberaniannya melaporkan insiden kelab malam ke Polda Metro Jaya. Bukannya mendapatkan simpati publik, korban justru menjadi sasaran empuk aksi doxing jahat dari akun anonnim.
Deki Patria selaku kuasa hukum korban mengungkapkan secara blak-blakan mengenai teror mental yang sedang menimpa kliennya di area Tebet, Jakarta Selatan. “Kondisi klien ini sangat memprihatinkan, yang di mana dia notabenenya merupakan korban.
Nah, sekarang sudah diserang oleh beberapa akun yang sifatnya anonim, termasuk sudah dibagikan identitasnya, seperti tempat dia bekerja, kemudian alamat di mana dia tinggal,” ujar Deki Patria saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan belum lama ini.
Aksi pembongkaran data pribadi tersebut membuat korban diliputi rasa cemas berlebih hingga tak berani menampakkan diri. Puncak dari penderitaan batin itu terjadi tatkala ANW mengirimkan pesan singkat berisikan niat nekat untuk mengakhiri jalan hidupnya sendiri.
“Sampai-sampai tadi malam ada kekhawatiran dari kami sebagai kuasa hukumnya, sempat menyampaikan pesan ke kita karena beratnya tekanan mental yang dia hadapi. Sampai-sampai dia bilang ingin mengakhiri hidupnya supaya menyelesaikan permasalahan ini,” beber Deki.
Melihat kondisi kesehatan jiwa kliennya yang kian kritis, tim pengacara langsung bergerak cepat menyiapkan bantuan pendampingan tenaga ahli. Tulus Pardosi menegaskan pentingnya perlindungan identitas bagi setiap korban kejahatan seksual agar terhindar dari aksi victim blaming.
Tulus menuturkan bahwa korban kekerasan seksual punya hak untuk identitasnya dilindungi, sebab perjalanan panjang penegakan hukum menunjukkan saat korban pelecehan seksual speak up dan muncul ke publik, sering kali terjadi victim blaming atau viktimisasi.
Langkah membentengi psikologis korban menjadi prioritas utama sebelum melangkah lebih jauh ke ranah pembuktian hukum. Tim kuasa hukum bahkan berencana mendatangi LPSK, Komnas Perempuan, hingga Kementerian PPPA demi menjamin keselamatan jiwa ANW.
Munculnya tuduhan miring mengenai motif kedatangan korban ke tempat hiburan malam akhirnya dijawab langsung oleh ANW bersama sahabatnya DYP. Lewat tayangan di saluran YouTube Unlocked Media pada Selasa, 15 September 2026, DYP membongkar alasan di balik kedatangan mereka ke kelab tersebut.
Mereka mengaku bersedia datang lantaran sudah mengenal baik salah satu karyawan kelab bernama Nanang yang menjamin keamanan mereka. “Jadi, kita itu sering datang ke tempat itu. Jadinya kita sapa-sapaan lah sama Nanang, karyawan di situ.
Makanya, kita mau ikut sama mereka karena kita percaya bahwa Nanang bakalan ngejagain kita dan kita dipastikan bakalan aman, makanya kita mau datang ke sana,” ucap DYP dikutip dari YouTube Unlocked Media, Selasa (15/9/2026).
Sebelum meluncur ke lokasi kejadian perkara di SCBD sekitar pukul 02.00 WIB, ANW dan kawan-kawan sempat berkumpul di kawasan Senopati. ANW membeberkan bahwa dirinya dan DYP diundang untuk meramaikan sebuah ruangan privat yang diisi oleh rombongan publik figur.
“Sebelum kita ke kelab yang menjadi tempat kejadian perkara ini (TKP), kita terlebih dahulu ngumpul di 56 Senopati karena memang ada salah satu teman kita yang ada event di sana. Kita ketemu di sana, happy-happy bentar, joget setelah itu sekitar pukul 02.00 WIB dini hari kita ke klub tersebut yang ada di SCBD yang menjadi TKP,” bebernya.
ANW menambahkan bahwa suasana di dalam ruangan privat tersebut awalnya dipenuhi oleh kawan-kawan terdekat Betrand Peto. “Kita itu diajak ke sana dalam rangka untuk meramaikan saja, dan di dalam ruangan itu ada enam orang yaitu empat orang cowok, dua orang perempuan dan semua di ruangan itu teman-temannya BP (Betrand Peto) yang memang public figure juga tetapi yang lebih terkenal ya sih BP,” tambah ANW.
Keterangan terbuka mengenai kronologi kedatangan ini disampaikan guna meluruskan spekulasi miring yang beredar luas di tengah masyarakat. Pihak korban merasa perlu membeberkan fakta awal agar publik memahami konteks kejadian tanpa menyudutkan status sosial mereka.
Awal mula cerita pesta malam yang berujung kepolisian semakin memperlihatkan rumitnya benang kusut kasus ini. Benturan klaim antara pihak pelapor dan pihak Betrand Peto bikin tensi perselisihan gosip ini memanas di media.
Di sisi lain, Betrand Peto alias Onyo secara tegas menepis seluruh tuduhan miring yang dialamatkan kepada dirinya lewat konferensi pers resmi. Onyo yang didampingi tim pengacara Joseph Irianto membantah pernah melakukan pemaksaan atau pelecehan seksual di depan pintu toilet.
“Seperti yang sudah ada berita yang tersebar, bahwa aku tidak melakukan hal yang seperti apa yang dibilang,” kata Betrand Peto dalam konferensi pers pada Senin (14/9/2026). Joseph Irianto turut menegaskan bantahan tersebut dengan mengatakan bahwa yang pertama, dikatakan dalam press conference pelapor kemarin, bahwa klien kami menarik tangan dari pelapor, dan dengan tegas untuk itu kami bantah.
Bantahan hangat dari pihak Onyo langsung mendapatkan respons menohok dari Nathaniel Hutagaol selaku tim hukum pelapor. Nathaniel menyindir keras framing citra baik yang sering dipakai untuk menutupi dugaan kejahatan pidana.
“Satu hal ya. Jangan karena dia seorang publik figur dan diframing dengan citra baik, lantas dia bebas berbuat pidana,” kata Nathaniel dengan nada tegas. Nathaniel menambahkan bahwa dirinya tak mau ambil pusing dengan penilaian masa lalu terlapor yang dikenal masyarakat sebagai sosok anak baik.
Sengketa panas antara pihak ANW dan Betrand Peto kini telah memasuki ranah penyidikan resmi di PPA Polda Metro Jaya. Dampak doxing parah yang membahayakan nyawa korban menjadi pelajaran berharga bagi netizen agar bijak dalam berkomentar di media sosial.
Proses pembuktian lewat rekaman CCTV dan keterangan saksi kunci bakal menjadi penentu utama dalam menyingkap tabir kebenaran. Nah, mari kita kawal bersama jalannya penanganan kasus ini agar keadilan sejati dapat ditegakkan tanpa pandang bulu.
Sumber: www.grid.id
4 jam diperiksa, korban dugaan pelecehan Betrand Peto terima 23 pertanyaan dari penyidik usai mendatangi…
Ruben Onsu minta maaf usai Betrand Peto diduga terlibat kasus kekerasan seksual agar publik mendapat…
Gofar Hilman buka suara setelah video syur 27 tahun silam terus digoreng netizen usai dirinya…
Thalita Latief Ungkap Penyebab Meninggalnya sang Ayah Usai Operasi Jantung di Padang setelah berjuang melawan…
Kabar heboh datang dari Sarwendah yang siap melayangkan somasi kepada Ruben Onsu terkait dugaan tunggakan…
Kabar heboh erupsi Gunung Anak Krakatau bikin sederet artis panik, mulai dari rumah Haykal Kamil…