Estimated reading time: 4 minutes

Lambe Katy – Ada duka yang nggak pernah benar-benar selesai, hanya berubah bentuk. Itulah yang kini dirasakan Karina Ranau sejak kepergian Epy Kusnandar. Beberapa waktu terakhir, publik kembali menyorot Karina setelah beredar video dirinya duduk di makam sang suami, basah oleh hujan, sambil menangis.

Bukan adegan dramatis ala sinetron. Justru kesunyian itulah yang membuat banyak orang terdiam. Karina terlihat bersimpuh di pusara Epy Kusnandar di TPU Jeruk Purut, Jakarta. Hujan turun, tubuhnya tetap di sana. Dalam video itu, narasi singkat tertulis, “Rindu yang tak ada obatnya.” Momen itu cepat menyebar di media sosial.

Ziarah yang Jadi Rutinitas

Bagi Karina, makam Epy bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia adalah ruang percakapan baru. Dalam beberapa kesempatan, Karina memang sudah terang-terangan soal kebiasaannya datang ke makam sang suami, bahkan nyaris setiap hari.

Ia pernah bercerita bahwa kepergian Epy masih sulit diterima sepenuhnya. Dalam pikirannya, Epy seperti hanya sedang pergi bekerja. Seperti hari-hari sebelumnya ketika sang suami sibuk syuting dan pulang larut. Bedanya, kali ini pulangnya nggak pernah tiba.

Karina mengaku datang ke makam karena ingin merasa dekat. Bukan karena takut kehilangan kenangan, tapi justru karena kenangan itu terlalu hidup. Ia ingin berada di tempat yang paling terasa “dekat” dengan Epy, meski hanya secara batin.

Rindu yang Datang Tanpa Peringatan

Dalam penuturannya, Karina sering menyebut kata “kehilangan” tanpa berusaha mengemasnya secara manis. Ia mengaku masih belum percaya bahwa Epy sudah nggak ada. Perasaan itu datang tiba-tiba, kadang di pagi hari, kadang di tengah malam.

Karina pernah mengatakan bahwa kepergian Epy terasa begitu cepat. Baru beberapa hari, tapi dampaknya seperti gelombang yang terus datang. Ia mengaku masih ingin bercerita banyak hal, hal-hal kecil yang dulu selalu ia bagikan ke Epy setiap hari.

Kini, semua cerita itu hanya bisa disampaikan di depan makam. Ia duduk, berbicara, dan mengingat masa-masa ketika obrolan sederhana jadi rutinitas harian yang kini hilang.

Duduk di Tengah Hujan, Tanpa Peduli Siapa Melihat

Video Karina duduk hujan-hujanan di makam Epy jadi sorotan karena kejujurannya. Ia nggak berusaha terlihat kuat. Ia juga nggak mencoba menyembunyikan kesedihan. Tangisnya pelan, tubuhnya diam, seolah hujan adalah satu-satunya saksi.

Banyak yang menilai momen itu sebagai gambaran rindu yang sudah menumpuk terlalu lama. Duduk di bawah hujan bukan soal dramatisasi, tapi refleksi perasaan yang nggak bisa lagi ditahan.

Karina seolah membiarkan alam ikut menemani dukanya. Hujan turun, air mata jatuh, semua bercampur tanpa perlu penjelasan panjang.

Epy Kusnandar, Sosok yang Sulit Digantikan

Epy Kusnandar dikenal publik sebagai aktor senior dengan karakter kuat. Namun bagi Karina, Epy adalah pasangan hidup yang selalu hadir dalam keseharian. Ia bukan hanya suami, tapi juga tempat bercerita, mengadu, dan berbagi segala hal.

Karina pernah menyampaikan bahwa selama ini mereka hampir selalu bersama. Setiap hari ada cerita. Setiap hari ada percakapan. Ketika kebiasaan itu tiba-tiba terputus, ruang kosongnya terasa begitu besar.

Kini, semua percakapan itu berpindah tempat. Dari ruang keluarga ke pusara makam. Dari suara langsung ke monolog penuh rindu.

Media Sosial dan Empati Netizen

Meski video itu viral, Karina nggak pernah terlihat mengejar perhatian. Unggahan tentang ziarahnya justru terasa personal. Banyak warganet mengaku ikut merasakan sesak melihat keteguhan Karina mendatangi makam sang suami.

Empati mengalir tanpa perlu drama tambahan. Banyak yang melihat sosok Karina sebagai gambaran istri yang masih berusaha berdamai dengan kenyataan, pelan-pelan, tanpa memaksa dirinya kuat terlalu cepat.

Menjaga Kenangan, Bukan Terjebak Masa Lalu

Meski rutin ziarah, Karina menegaskan bahwa ia nggak ingin terjebak dalam duka selamanya. Datang ke makam baginya adalah cara menjaga koneksi batin, bukan menolak kenyataan.

Ia masih ingin hidup, masih ingin sehat, dan selama itu pula ia ingin menyempatkan diri datang. Selama tubuhnya kuat, selama waktu memungkinkan, makam Epy akan tetap jadi tempat ia singgah.

Karina menyadari bahwa duka nggak bisa dihilangkan. Ia hanya bisa diterima, dijalani, dan dipeluk perlahan. Rindu Karina pada Epy kini menemukan bentuk baru. 

Baginya, Epy masih ada. Bukan secara fisik, tapi dalam setiap kenangan, setiap kebiasaan kecil, dan setiap langkah menuju makam di Jeruk Purut. Kalimat “rindu yang tak ada obatnya” adalah kenyataan yang kini dijalani Karina setiap hari.

Duka yang Nggak Perlu Dipamerkan

Kisah Karina Ranau dan Epy Kusnandar adalah potret kehilangan yang jujur. Nggak berisik, nggak dibuat-buat, tapi terasa sampai ke hati. Duduk di makam, hujan turun, air mata jatuh, semua terjadi apa adanya.

Dalam diam itu, Karina menunjukkan bahwa cinta nggak berhenti ketika seseorang pergi. Ia hanya berubah cara hadirnya. Nah, mungkin, disanalah rindu menemukan tempatnya sendiri.

Sumber : www.msn.com