Terkuak Inilah Alasan Bobon Santoso Menjual Akun Youtubenya!
Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Nama Bobon Santoso selama ini identik lewat aksi masak besar penuh rasa kemanusiaan. Kamu pasti familiar melihat ribuan porsi makanan dibagikan, kerumunan warga, sampai cerita haru yang sering muncul di akhir tayangan.
Namun, di balik kemegahan itu, ada sisi lain yang jarang terlihat kamera. Dalam obrolan di Close The Door milik Deddy Corbuzier, Bobon akhirnya membuka suara. Ia mengaku memilih pensiun dari YouTube dan melepas akunnya dengan nilai fantastis.
Angkanya bahkan bikin banyak orang terdiam. Keputusan ini jelas mengejutkan. Sosok yang terlihat kuat, dermawan, penuh tenaga di layar, ternyata menyimpan rasa letih yang menumpuk lama. Lalu apa sebenarnya yang terjadi?
Ada Beban Besar
Untuk memahami pilihan Bobon, kamu perlu melihat bagaimana kontennya berjalan selama ini. Produksi masak raksasa jelas bukan proyek kecil. Perlu bahan banyak, tim, logistik, dan waktu. Setiap episode seperti acara besar yang harus sukses.
Di podcast itu, Bobon bercerita sambil menahan emosi. Ia merasa pola yang ia bangun sejak awal justru berubah menjadi tekanan. YouTube yang dulu jadi ruang berekspresi pelan-pelan terasa seperti tanggung jawab berat di pundak.
Dalam narasinya, ia menyampaikan bahwa membuat video panjang belasan menit bahkan sampai satu jam dengan konsep masak seperti itu memerlukan energi luar biasa. Bobon Santoso merasa pola tersebut sulit berkembang di ekosistem digital sekarang.
Sponsor Menurun, Tekanan Meningkat
Setelah bicara soal format, obrolan bergeser ke realita bisnis. Di sinilah kamu mulai melihat potongan puzzle lain. Bobon mengakui selama ini banyak bergantung pada dukungan brand.
Ketika endorsement datang beberapa kali dalam sebulan, biaya produksi masih bisa tertutup. Nah, saat ritme itu berubah, beban finansial ikut terasa. Bobon menyebut biaya video yang terlalu besar menjadi kesalahan yang ia sadari belakangan.
Dampaknya memang luas. Manfaat sosialnya terasa, namun dari sisi keberlanjutan, semuanya makin sulit. Seperti seseorang yang sadar idealisme tinggi kadang perlu bertemu hitungan realistis.
Saat Perjalanan Jadi Tempat Curhat
Lalu percakapan masuk ke bagian yang paling menyentuh. Bobon menjelaskan bahwa setiap kedatangannya ke daerah kini bukan sekadar acara memasak. Kehadirannya berubah menjadi ruang harapan masyarakat.
Banyak yang ingin menyampaikan aspirasi, sekaligus didengar. Bobon Santoso merasa dipercaya. Nah, akan tetapi, hal tersebut sekaligus membebani Bobon. Dalam ceritanya, ia mengulang bahwa mental menjadi nomor satu.
Tekanan terbesar ada di sana. Uang kadang harus ditutup dari kantong pribadi, dan rasa tanggung jawab emosional yang terus mengikuti. Kamu bisa membayangkan, datang dengan niat berbagi, lalu pulang membawa begitu banyak cerita orang lain. Itu berat.
Editing Panjang yang Menguras Tenaga
Bobon membeberkan bahwa satu video bisa memiliki durasi 40 sampai 50 menit. Proses pengeditannya panjang. Bahkan dapat memakan waktu sampai sebulan. Setelah lelah di lapangan, ia masih harus menunggu tahap pascaproduksi yang rumit.
Dari semua cerita, akhirnya lahirlah keputusan. Bobon ingin menutup bab lama. Bobon ingin hidup tanpa bayang-bayang kewajiban memproduksi episode panjang terus menerus. Ia menyebut bila akun itu sudah dilepas, pikirannya akan jauh lebih ringan.
Nggak ada lagi tekanan memikirkan durasi, timeline, atau tuntutan penonton. Bagi sebagian orang ini terdengar ekstrem. Namun bagi dirinya, itu jalan keluar. Nah, kadang, memilih berhenti memang perlu keberanian.
Bukan Berarti Menghilang
Menariknya, Bobon menegaskan satu hal penting. Ia pensiun dari format lama, bukan dari dunia konten. Bobon masih ingin berbagi dan menyampaikan pesan. Bedanya, medium yang dipilih akan berubah.
Ia melihat platform seperti Instagram dan TikTok menawarkan cara yang lebih ringkas. Pesan tetap sampai. Energi yang keluar jauh lebih terkontrol. Beban mental pun berkurang. Pilihan ini terasa logi, karena ya adaptasi adalah kuncinya.
Reaksi Netizen Mulai Ramai
Seperti biasa, keputusan besar langsung memicu respons publik. Banyak yang kaget. Banyak yang sedih. Ada juga yang mencoba memahami. Sebagian menganggap Bobon terlalu berharga untuk berhenti.
Yang lain menilai kesehatan mental memang harus jadi prioritas. Namun satu hal yang pasti, pengakuan jujur ini membuka mata banyak kreator lain. Jika diperhatikan, kisah Bobon terasa dekat.
Setiap akhir selalu membawa awal lain. Kini publik menunggu bentuk baru dari Bobon Santoso. Konten singkat, hingga pendekatan berbeda. Energi yang mungkin lebih segar. Apakah dampaknya akan sama besar? Belum ada yang tahu.
Namun melihat ketulusan yang ia tunjukkan, banyak orang percaya perjalanan berikutnya tetap layak diikuti. Karena pada akhirnya, yang membuat penonton bertahan adalah hati dari orang di depan kamera, yaitu Bobon Santoso.
Sumber: indonesiainside.id
