Reza Arap Tanggapi Tuduhan Manfaatkan Kepergian Lula Lahfah
Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Isu seputar Reza Arap kembali menyedot perhatian publik. Kali ini, sorotan mengarah ke respons emosional Arap setelah seorang netizen menuding dirinya menjadikan kepergian Lula Lahfah sebagai komoditi simpati.
Tuduhan itu muncul di tengah suasana duka yang belum sepenuhnya mereda, lalu berkembang cepat di media sosial. Narasi soal publik figur yang dianggap “memainkan” empati publik memang bukan hal baru.
Namun, ketika tudingan itu diarahkan pada seseorang yang baru saja kehilangan pasangan, reaksi publik pun terbelah. Di titik inilah Reza Arap memilih bersuara, menjelaskan posisinya secara langsung tanpa basa-basi.
Tuduhan Netizen yang Memantik Reaksi
Semua bermula dari sebuah unggahan di platform X. Seorang pengguna dengan akun @itsurboihyl menuliskan komentar yang cukup tajam. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut adanya influencer yang menggunakan pasangan yang telah meninggal sebagai komoditi demi simpati publik.
Unggahan itu langsung dikaitkan dengan situasi yang sedang dihadapi Reza Arap. Banyak warganet membaca arah sindiran tersebut, lalu mulai memperdebatkannya di kolom komentar.
Sebagian merasa tuduhan itu kelewat jauh, sementara yang lain menganggap kritik semacam itu wajar di ruang publik. Situasi ini akhirnya mendorong Arap untuk memberikan klarifikasi. Bukan lewat video panjang atau konferensi pers, melainkan tulisan di sosmed.
Respons Reza Arap yang Jujur dan Terbuka
Alih-alih menghindar, Reza Arap memilih menjawab tudingan tersebut secara langsung. Ia mengakui bahwa secara teknis, dirinya memang memiliki banyak “bahan” yang bisa dipakai untuk menarik simpati publik.
Mulai dari memori, foto, hingga video bersama Lula Lahfah yang tersimpan rapi. Namun, Arap menegaskan bahwa semua itu sengaja ia simpan untuk dirinya sendiri. Dalam tulisannya, ia menyampaikan bahwa dirinya sadar betul bagaimana algoritma media sosial bekerja.
Engagement bisa diraih dengan mudah jika ia mau membuka semua kenangan itu ke publik. Meski begitu, pilihan tersebut nggak ia ambil. Ia bahkan menyinggung soal kehadiran wartawan sejak hari pertama kepergian Lula.
Menurut Arap, meladeni semua itu justru terasa terlalu berat di tengah kondisi emosional yang belum stabil. Dalam kalimat yang terasa getir, ia menantang sang netizen untuk merasakan posisinya walau hanya sehari.
Pilihan Diam yang Disalahartikan
Menariknya, Arap juga menyinggung soal perubahan perilakunya di media sosial. Ia mengaku lebih aktif di X ketimbang Instagram atau TikTok. Bukan tanpa alasan. Platform berbasis visual itu justru menyimpan terlalu banyak kenangan yang sampai sekarang belum sanggup ia buka.
Menurut Arap, X terasa lebih sunyi. Hanya tulisan, nggak ada foto lama yang tiba-tiba muncul di feed. Atau nggak ada video kenangan yang terputar otomatis. Pilihan ini, sayangnya, justru dianggap sebagian orang sebagai strategi pencitraan.
Move On Versi Reza Arap
Dalam klarifikasinya, Reza Arap juga menekankan bahwa move on bukan berarti menghapus masa lalu. Ia menyebut dirinya masih belum sanggup membuka galeri ponsel karena terlalu banyak kenangan bersama Lula.
Hal yang sama terjadi pada akun media sosial pribadinya. Baginya, move on lebih soal melanjutkan hidup tanpa mengkhianati memori. Ada mimpi-mimpi Lula yang ingin ia wujudkan.
Ada tanggung jawab terhadap orang-orang yang bergantung padanya. Pikiran inilah yang membuatnya mencoba berdiri lagi, meski pelan.
Respons Warganet yang Terbelah
Interaksi antara Reza Arap dan netizen tersebut langsung memicu diskusi panjang. Di Instagram, komentar demi komentar bermunculan. Salah satu akun menuliskan bahwa dirinya bukan penggemar Arap maupun Lula, namun merasa iba melihat kondisi Arap yang terlihat terpukul hingga nyaris menghilang dari Instagram.
Komentar itu menyoroti betapa mudahnya publik menghakimi tanpa benar-benar memahami situasi. Ada juga warganet lain yang memuji peran Lula Lahfah dalam kehidupan Arap. Mereka menilai Lula berhasil membawa sisi Arap yang lebih tenang dan lembut.
Pujian itu disertai dengan catatan pahit. Menurut warganet tersebut, masih banyak orang yang hanya melihat sisi negatif Arap. Padahal, hanya orang-orang terdekat yang benar-benar tahu bagaimana karakter dan kebaikannya.
Kepergian Lula Lahfah dan Sorotan Publik
Kepergian Lula Lahfah sendiri sejak awal memang dikelilingi sorotan. Ia ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada 23 Januari 2026. Kabar tersebut langsung menyebar luas dan memicu berbagai spekulasi.
Pihak kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. Salah satunya adalah tabung whip pink yang kemudian ramai diperbincangkan. Polisi juga memastikan adanya DNA almarhumah pada barang tersebut.
Namun, penyelidikan akhirnya dihentikan. Tanpa adanya autopsi, Polres Metro Jakarta Selatan memutuskan menutup kasus kematian Lula Lahfah. Keputusan ini memicu pro dan kontra, sekaligus menyisakan banyak pertanyaan di benak publik.
Di tengah semua itu, Lula dimakamkan di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, sehari setelah kepergiannya. Prosesi pemakaman berlangsung dengan suasana duka yang mendalam.
Duka Pribadi di Tengah Konsumsi Publik
Kasus ini kembali mengingatkan betapa tipisnya batas antara empati dan konsumsi publik. Kehidupan pribadi figur publik sering kali menjadi tontonan, bahkan saat duka sedang menggelayut.
Reza Arap, dengan segala kontroversinya di masa lalu, kini berada di fase hidup yang berbeda. Cara ia merespons tuduhan ini menunjukkan sisi yang lebih reflektif, untuk menjelaskan bahwa ada batas yang sengaja ia jaga.
Gosip mungkin akan terus bergulir. Opini publik akan selalu terbagi. Namun, di balik semua itu, ada manusia yang sedang belajar bertahan setelah kehilangan besar. Nah, bagi sebagian orang, penjelasan Arap sudah lebih dari cukup untuk memahami posisinya.
Sumber: www.rctiplus.com
