Estimated reading time: 5 minutes

Lambe Katy – Agenda mediasi lanjutan terkait gugatan hak asuh anak Ruben Onsu dan Sarwendah Tan yang seharusnya berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Kamis (6/8/2026) terpaksa harus ditunda. 

Penundaan jadwal persidangan ini terjadi lantaran hakim mediator yang bertugas memimpin jalannya mediasi berhalangan hadir di lokasi. Aktivitas di gedung pengadilan sempat menyita perhatian media sejak pagi hari ketika Sarwendah tiba di lokasi persidangan. 

Mantan personel grup Cherrybelle tersebut melangkah tenang dan penuh percaya diri didampingi oleh pengacaranya, Chris Sam Siwu. Sikap dingin ditunjukkan Sarwendah yang memilih untuk nggak banyak memberikan respons verbal kepada kerumunan wartawan. 

Senyuman tipis meyakinkan netizen bahwa kondisi fisik serta mentalnya dalam keadaan sehat. Kekecewaan tim hukum Sarwendah muncul setelah mendapatkan kepastian resmi mengenai batalnya agenda mediasi pada hari tersebut dari pihak pengadilan. 

Momen Alot Di Pengadilan dan Penundaan Sidang

“Saya dapat info ternyata hakim mediatornya berhalangan hadir. Jadi kami menunggu mediasi selanjutnya yang akan digelar minggu depan. Ya, kami sih menghargai dan menghormati saja,” ungkap Chris Sam Siwu saat dikonfirmasi awak media. 

Penundaan ini membuat Sarwendah memilih untuk langsung melangkah menuju kendaraan pribadinya demi menghindari pertanyaan lebih dalam dari para pemburu berita. Kehadiran Ruben Onsu di PN Jakarta Selatan beberapa saat setelahnya juga menyita perhatian. 

Mengenakan kemeja berwarna biru muda, Ruben tampak didampingi oleh kuasa hukum, Minola Sebayang, guna mengikuti alur persidangan. Keterangan mengenai pembatalan sidang langsung direspons oleh tim Ruben dengan melapor ke pihak panitera pengadilan. 

“Oh ditunda ya? Kita lapor dulu ke panitera, biar tidak dikira tidak kooperatif,” pungkas Minola Sebayang menegaskan komitmen kliennya. Sebelum membahas lebih jauh, mari kita cermati fakta-fakta penting di balik persidangan mereka berikut ini.

Klarifikasi Pihak Sarwendah

Intinya, proses mediasi perebutan hak asuh anak antara Ruben dan Sarwendah terpaksa dijadwalkan ulang minggu depan. Pihak pengadilan mengonfirmasi bahwa hakim mediator berhalangan hadir sehingga agenda pemeriksaan ditunda. 

Kuasa hukum menegaskan bahwa Sarwendah merupakan sosok istri yang amat setia saat Ruben mengalami masalah kesehatan serius. “Klien kami pernah menjaga suaminya pada saat masa pernikahan. 

Di saat suaminya sedang mengalami sakit kesehatan, titik terendah kesehatan suaminya, klien kami menjaga dengan setia, tidak meninggalkannya di saat itu sampai si suami bisa pulih kembali dan beraktivitas seperti semula,” ujar Chris Sam Siwu di PN Jakarta Selatan.

Selain itu, pihak Sarwendah menyesalkan beredarnya potongan video pertengkaran serta isu privasi ke ruang publik. “Kami sangat-sangat menyesali ya, apa yang telah rapat-rapat kami jaga, ternyata tidak sengaja publik menjadi tahu. Kami punya setebal ini bukti-bukti tapi kami tidak sampaikan di media karena kami menjaga privasi. Kami tidak ingin anak-anak ini terus menonton pertengkaran orang tuanya,” lanjut Chris.

Klarifikasi Isu Tiket Konser dan Fasilitas Anak

Tim hukum meluruskan isu miring terkait permintaan tiket konser Blackpink yang sempat diposisikan sebagai tekanan finansial. “Klien kami bertanya: ‘Nggak apa-apa aku yang bayar aja’. 

Jadi klien kami memang meminta untuk satu seat satu row, tapi klien kami yang akan bayar. Tujuannya baik supaya ada yang menjaga (anak-anak). Tapi kenapa lalu kemudian di-framing klien kami memberikan tekanan,” jelas Abraham Simon.

Pihak pengacara mengajak semua belah pihak untuk menahan diri dan menghentikan perang opini di media sosial. “Saya jujur, kami melihat sekarang ini semuanya kalah. Baik Bang Minola, saya, Ruben, Wenda semuanya kalah. Kenapa? Karena hal yang kita jaga yang tidak sampai harus masyarakat tahu akhirnya terbongkar semua. Itu kekalahan kami semua,” pungkas Chris.

Polemik Video Viral dan Alasan Emosi

Sorotan masyarakat terhadap perceraian pasangan selebritas ini makin memanas usai beredarnya potongan rekaman CCTV yang memperlihatkan percekcokan rumah tangga. Rekaman yang memperlihatkan emosi meluap dari Sarwendah tersebut mendadak viral dan memicu beragam tuduhan negatif dari para warganet. 

Tim kuasa hukum Sarwendah akhirnya memilih untuk memberikan klarifikasi mendalam demi meluruskan persepsi liar yang terlanjur terbentuk di tengah publik. Emosi besar yang terlihat dalam rekaman tersebut ditegaskan bukan hadir tanpa alasan yang melatarbelakanginya.

Pihak pengacara meminta masyarakat untuk melihat gambaran utuh dari perjalanan rumah tangga mereka sebelum menghakimi sosok kliennya. Kemarahan hebat di penghujung usia pernikahan dianggap sebagai akumulasi dari rasa kekecewaan yang sudah lama terpendam secara rapat. 

“Kami tidak membuka terlalu jauh isi video itu. Tetapi semua bisa melihat dan mendengar bagaimana seorang ibu, sekian lama pernikahan, di akhir pernikahannya marah besar. Lalu di akhir pernikahan ada pertengkaran besar. Itu harus menjadi pertanyaan buat kita semua, kenapa sampai marah?” ungkap Chris Sam Siwu menceritakan situasi emosional kliennya.

Benarkah Sarwendah Terkena Framing Negatif?

Pengorbanan serta pengabdian Sarwendah selama bertahun-tahun membina rumah tangga dinilai sebagai bukti kepribadiannya yang sangat bertanggung jawab. Masa-masa kritis saat Ruben berjuang melawan penyakit parah menjadi bukti nyata betapa Sarwendah selalu mendampingi sang suami tanpa pernah mengeluh. 

Framing negatif yang kini menyerang Sarwendah dirasa sangat nggak adil jika dibandingkan dengan rekam jejak dedikasinya selama ini. Klarifikasi resmi ini diharapkan bisa membendung asumsi-asumsi liar yang merugikan nama baik keluarga.

Keberadaan dokumen serta bukti-bukti perselisihan sebenarnya sengaja disimpan rapat oleh pihak Sarwendah demi menjaga kesehatan mental buah hati. Sangat disayangkan ketika rahasia internal rumah tangga justru beredar luas dan menjadi bahan pergunjingan. 

Dampak dari terbukanya privasi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan emosional anak-anak mereka di masa depan. Kepedulian terhadap psikologis anak inilah yang membuat pihak Sarwendah menahan diri untuk nggak mengumbar di media.

Mengutamakan Kepentingan Anak

Sikap saling tuduh di ruang publik diakui oleh kedua belah pihak hanya akan membawa kerugian moral bagi keluarga besar. Tim pengacara Sarwendah menekankan pentingnya menurunkan tensi perselisihan agar proses perceraian dapat berjalan dengan kepala dingin. 

Kedewasaan sikap dibutuhkan oleh Ruben maupun Sarwendah demi menjamin masa depan pengasuhan anak yang tetap harmonis. Drama hukum ini diharapkan nggak merusak hubungan silaturahmi sebagai orang tua kandung bagi anak-anak mereka.

Langkah penyelesaian secara kekeluargaan di luar meja hijau sebenarnya masih menjadi harapan besar dari berbagai pihak. Keinginan untuk menciptakan suasana yang kondusif menjadi alasan utama mengapa seruan damai terus disuarakan oleh tim kuasa hukum. 

Netizen pun berharap agar proses mediasi lanjutan yang dijadwalkan minggu depan dapat membuahkan hasil memuaskan bagi kedua pihak. Keputusan bijak dari persidangan ini menentukan nasib tumbuh kembang anak-anak mereka ke depannya.

Sumber: CNN Indonesia