Estimated reading time: 4 minutes

Lambe Katy – Tahun 2026 baru saja dimulai, tapi bagi Gilang Dirga, suasananya langsung terasa berbeda. Hal ini dikarenakan rasa kehilangan yang masih menggantung. Ayahanda tercinta, Wendi Indra, berpulang tepat di penghujung 2025. 

Kepergian itu meninggalkan ruang kosong di hati Gilang dan lingkar keluarga terdekatnya. Di rumah duka kawasan Cikunir, Bekasi, suasana haru begitu terasa. Gilang tampak berusaha tegar, meski sesekali suaranya melemah saat mengenang sosok ayah. 

Namun, ada satu cerita yang berulang kali ia sampaikan, sebuah kenangan yang terasa paling menohok, apa itu? Ya, kenangan antara hubungan mendiang ayahnya dengan sang cucu, Gin Dirga.

Kedekatan yang Terbangun Lewat Hal Sederhana

Saat mengenang ayahnya, Gilang lebih sering tersenyum tipis sebelum akhirnya menarik napas panjang. Ia bercerita bahwa mendiang ayahnya punya kebiasaan sederhana yang selalu ditunggu Gin. 

Hampir setiap beberapa hari sekali, selalu ada panggilan video khusus antara kakek dan cucu itu. Menurut Gilang, ayahnya memang tipikal sosok yang menikmati momen kecil. Ia senang menghabiskan waktu bermain bersama Gin, meski hanya lewat layar ponsel. 

Buat Gilang, kebiasaan itu kelihatan sepele. Namun, kini justru terasa sangat berarti. Ia mengungkapkan bahwa setiap kali keluarga berkumpul, pemandangan yang sama selalu terulang. 

Gin dan sang kakek sering memilih menyendiri, seolah punya dunia mereka sendiri. Saat anggota keluarga lain asyik berbincang, dua sosok itu justru tenggelam dalam kebersamaan versi mereka.

Hubungan Kakek dan Cucu yang Dekat

Gilang mengakui, kedekatan ayahnya dengan Gin sering jadi pemandangan yang bikin keluarga tersenyum sendiri. Ada momen-momen kecil yang terasa hangat, seperti ketika Gin lebih memilih duduk di samping sang kakek dibanding ikut keramaian.

Ia menggambarkan hubungan itu seperti dua sahabat lintas usia. Gin seolah menemukan teman bermain yang selalu sabar, sementara sang kakek menemukan kebahagiaan sederhana lewat tawa cucunya. 

Hubungan ini tumbuh alami, tanpa paksaan atau jadwal khusus. Bagi Gilang, melihat ayahnya begitu dekat dengan Gin adalah kebahagiaan tersendiri. Ia merasa ayahnya menemukan peran baru yang membuat hari-harinya terasa lebih hidup. 

Sebaliknya, Gin juga tumbuh dengan figur kakek yang penuh perhatian. Kini, kenangan itu justru menjadi bagian paling sulit untuk diterima saat kepergian benar-benar terjadi.

Gin dan Kesedihan yang Belum Bisa Ia Ucapkan

Sebagai anak kecil, Gin memang belum sepenuhnya memahami makna kehilangan. Namun, Gilang percaya, perasaan itu tetap sampai ke hati putranya. Ia melihat sendiri bagaimana perubahan kecil mulai terlihat sejak sang kakek pergi.

Gilang mengatakan bahwa Gin jelas merasakan kesedihan. Meski belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata, sikap dan ekspresinya sudah cukup bicara. Sosok yang selama ini jadi teman bermain, tiba-tiba menghilang dari rutinitasnya.

Bagi Gin, sang kakek bukan sekadar anggota keluarga. Ia adalah teman baik, sosok yang selalu ada saat ingin bermain atau sekadar bercanda. Kehilangan itu datang tanpa peringatan, dan perasaan bingung pun ikut menyertainya.

Momen Haru di Rumah Duka

Kesedihan Gin semakin terasa saat ia diajak melihat jenazah sang kakek. Istri Gilang, Adiezty Fersa, mengungkapkan bahwa momen itu menjadi salah satu yang paling menguras emosi.

Adiezty bercerita, ketika Gin akhirnya memahami bahwa Unggang, panggilan sayangnya untuk sang kakek, telah pergi, tangisnya pecah. Ia menangis begitu dalam, sebuah reaksi jujur dari anak kecil yang kehilangan sosok penting dalam hidupnya.

Proses Menjelaskan Kehilangan pada Anak

Setelah momen tersebut, tantangan baru muncul bagi Gilang dan Adiezty. Mereka harus menjelaskan pada Gin tentang kepergian sang kakek dengan cara yang bisa dipahami anak seusianya.

Adiezty mengungkapkan bahwa Gin masih sering bertanya soal keberadaan Unggang. Ia kerap mencari-cari, seolah berharap sang kakek akan muncul seperti biasa. Di sinilah peran orang tua diuji, menjelaskan tentang perpisahan dengan bahasa yang lembut.

Adiezty memilih pendekatan yang menenangkan. Ia menjelaskan bahwa sang kakek telah pergi, namun tetap mengajarkan Gin untuk mendoakan. Harapannya sederhana, agar Gin bisa belajar menerima, meski perlahan.

Penyakit yang Menggerogoti

Di balik kepergian mendadak itu, tersimpan perjuangan panjang yang jarang disorot. Ayah Gilang Dirga diketahui telah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit jantung. Proses itu dijalani dengan tenang.

Kepergiannya pada Selasa dini hari, 30 Desember 2025, menjadi pukulan berat bagi keluarga. Meski sudah mengetahui kondisi kesehatan sang ayah, Gilang tetap merasa kehilangan datang terlalu cepat.

Bagi Gilang, mengenang ayahnya kini menjadi cara untuk bertahan. Cerita-cerita kecil tentang kebersamaan dengan Gin menjadi pegangan di tengah duka. Ia percaya, kenangan itu akan terus hidup, bahkan saat waktu terus berjalan.

Hubungan kakek dan cucu yang terjalin begitu dekat menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga mereka. Meski sosok itu kini telah pergi, nilai kebersamaan dan kasih sayang yang ditinggalkan tetap terasa. Gilang menyadari, kehilangan ini akan selalu menjadi bagian dari hidupnya. 

Duka yang Menyatukan Keluarga

Di tengah suasana berkabung, Gilang melihat satu bisa disyukuri, yaitu keluarga justru semakin dekat. Kehilangan ini menjadi momen refleksi, mengingatkan betapa berharganya waktu bersama orang terkasih.

Ia berharap, ke depan, Gin bisa tumbuh dengan membawa kenangan indah tentang Unggang. Bukan tentang perpisahan, melainkan tentang tawa, permainan, dan kebersamaan yang pernah ada.

Sumber : kumparan.com