Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Nama Feni Rose mendadak ramai dibicarakan, karena sebuah pengakuan jujur yang ia unggah di media sosial. Presenter yang dikenal tenang dan tajam saat bertanya ini memperlihatkan sisi emosional, dan penuh penyesalan.
Semua bermula dari satu buku. Memoar berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Lewat unggahan di Threads, Feni Rose mengaku membaca buku itu pada Jumat lalu. Namun, alih-alih selesai dengan perasaan lega, ia justru mengaku dadanya terasa sesak.
Tulisan Aurelie seolah menyeretnya masuk ke dalam ingatan yang gelap, penuh ketakutan dan kebingungan seorang remaja yang belum benar-benar paham dunia. Dari sini, kisah dan ceritanya pun bergulir.
Dalam Broken Strings, Aurelie Moeremans membuka lembaran hidup yang selama ini jarang diceritakan ke publik. Buku ini merupakan catatan emosional tentang masa muda yang terjebak dalam relasi manipulatif.
Aurelie menulis bahwa ia mengalami child grooming saat usianya baru 15 tahun. Pria yang mendekatinya saat itu berusia dua kali lipat lebih tua. Hubungan tersebut, yang awalnya tampak seperti perhatian dan kasih sayang, perlahan berubah menjadi jerat mental.
Cara Aurelie menuturkan kisahnya terasa personal, jujur, dan tanpa dramatisasi berlebihan. Ia menuliskan ketakutan, kebingungan, rasa nggak berdaya, hingga keputusasaan yang dialami seorang remaja. Tulisan inilah yang kemudian mengguncang Feni Rose.
Lewat Threads, Feni Rose menuliskan pengalamannya membaca Broken Strings dengan nada yang sangat personal. Ia mengaku nyaris nggak sanggup menahan air mata karena bisa merasakan apa yang dialami Aurelie saat itu.
Dalam narasinya, Feni menggambarkan bagaimana tulisan Aurelie menghadirkan rasa takut, kebingungan, dan ketidakberdayaan yang terasa nyata. Ia menyebut bahwa lewat kata-kata di buku itu, keputusasaan seorang anak yang terjebak situasi sulit terasa begitu dekat.
Unggahan tersebut langsung menyebar luas. Banyak yang merasa apa yang disampaikan Feni terasa jujur dan manusiawi. Ia nggak berbicara sebagai figur publik, tapi sebagai seseorang yang tersentuh secara emosional.
Selain membagikan perasaannya, Feni Rose juga menyampaikan harapan. Ia berharap ke depan nggak ada lagi korban child grooming seperti yang dialami Aurelie. Namun, jika masih ada yang terjebak dalam situasi serupa, Feni berharap mereka bisa segera menyadari tanda-tandanya dan menyelamatkan diri.
Feni nggak menggurui. Ia juga nggak bicara panjang soal definisi atau istilah. Pesannya mengalir sebagai empati. Bagi banyak pembaca, bagian ini justru terasa paling mengena. Seolah Feni sedang bicara langsung ke mereka yang mungkin pernah, atau sedang, berada di posisi sulit.
Namun, momen paling menyita perhatian justru datang saat Feni Rose mengungkapkan penyesalannya. Ia menjelaskan bahwa seandainya ia mengetahui cerita ini dua tahun lalu, perasaannya akan sangat berbeda.
Feni menyebut dirinya menyesal, bahkan merasa bodoh karena baru mengetahui kisah ini sekarang. Meski ia nggak menjelaskan secara gamblang apa yang ia sesali, publik langsung mengaitkannya dengan masa lalu.
Banyak yang menduga penyesalan itu berkaitan dengan momen saat Feni pernah mewawancarai Roby Tremonti beberapa tahun lalu. Sosok Roby sendiri belakangan diduga sebagai pria yang dimaksud dalam cerita Aurelie, meski dalam buku digunakan nama samaran.
Nama Roby Tremonti kembali mencuat seiring dengan perbincangan soal Broken Strings. Meski Aurelie nggak menyebut nama secara langsung, banyak warganet mengaitkan kronologi yang ditulis di buku dengan hubungan masa lalu Aurelie dan Roby.
Dalam konteks inilah, penyesalan Feni Rose dianggap relevan. Publik menduga, jika Feni mengetahui cerita sebenarnya sejak awal, ia mungkin akan bersikap berbeda di masa lalu.
Meski begitu, Feni sendiri nggak pernah menyebut nama siapa pun secara eksplisit. Ia memilih menyampaikan perasaan, bukan tudingan. Sikap ini justru membuat ceritanya terasa lebih dewasa.
Unggahan Feni Rose langsung dibanjiri komentar. Banyak warganet menunjukkan empati dan memahami posisinya. Sebagian menyebut bahwa wajar jika Feni dulu nggak mengetahui cerita lengkapnya.
Ada pula yang mengingatkan agar sosok yang diduga terlibat nggak lagi diberi panggung di acara televisi. Komentar-komentar itu mengalir deras, memperlihatkan bagaimana publik ikut terlibat dalam diskusi ini.
Beberapa warganet juga memuji langkah Aurelie yang memilih menulis buku sebagai cara berdamai dengan masa lalu. Mereka menyebut Broken Strings sebagai bacaan yang membuka mata, terutama bagi orang tua dan perempuan muda.
Kasus ini secara nggak langsung membuka refleksi soal peran media dan figur publik. Feni Rose, yang dikenal lewat acara bincang-bincang, justru menunjukkan sisi manusiawinya saat mengakui penyesalan.
Alih-alih defensif, ia memilih jujur. Pilihan ini membuat banyak orang merasa lebih dekat dengannya. Dalam dunia hiburan yang sering penuh pencitraan, kejujuran seperti ini terasa langka.
Di sisi lain, langkah Aurelie menulis Broken Strings juga dipandang sebagai bentuk keberanian. Ia nggak menuntut simpati berlebihan, tapi mengajak pembaca memahami dan belajar.
Buku Broken Strings kini nggak lagi sekadar memoar pribadi. Ia berubah menjadi pemantik obrolan publik. Kisah Aurelie, reaksi Feni Rose, dan respons warganet membentuk satu rangkaian cerita yang saling terhubung.
Cerita ini bergerak secara alami, dari pengalaman personal menjadi diskusi luas. Tanpa perlu drama berlebihan, semuanya mengalir lewat empati dan kejujuran. Feni Rose tampil sebagai manusia yang bisa menyesal dan belajar.
Begitu pula Aurelie, yang memilih bercerita bukan untuk membuka luka, melainkan untuk memahami masa lalu. Bagi kamu yang mengikuti kisah ini, mungkin ada satu benang merah yang terasa jelas.
Sumber : www.metropolitan.id
Isu KDRT yang menyeret nama Na Daehoon bikin geger media sosial, hingga akhirnya sang aktor…
Inara Rusli berharap konflik nikah siri bisa selesai damai, sementara Insanul Fahmi disebut siap merendahkan…
Nama Jefri Nichol kembali ramai dibicarakan publik setelah isu Jule mencuat, membuka lagi cerita soal…
Setelah 29 tahun bersama, Ridwan Kamil dan Atalia Praratya resmi berpisah, dengan pembagian hak asuh…
Karina Ranau kembali ke makam Epy Kusnandar, duduk hujan-hujanan sambil menangis, menumpahkan rindu yang sampai…
Ditetapkan sebagai tersangka usai dilaporkan Doktif, Richard Lee meluapkan kekecewaan dan mengaku lelah menghadapi cara…