Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Sorotan publik lagi-lagi tertuju pada nama Richard Lee. Setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dugaan pelanggaran perlindungan konsumen di Polda Metro Jaya pada 19 Februari 2026, ia keluar tanpa penahanan. Di titik inilah cerita mulai memanas.
Di sisi lain, Fahira Farahnaz alias Doktif tampil dengan ekspresi yang sulit disembunyikan. Kekecewaan itu terasa nyata, yaitu pernyataan langsung di hadapan awak media pada Kamis malam.
Ia mengaku cukup kecewa, bahkan belum sempat menanyakan alasan pasti kenapa penahanan nggak dilakukan. Nada bicaranya tenang, tapi jelas menyimpan tanda tanya besar.
Sebelum masuk ke reaksi panas, ada satu fakta penting yang bikin publik ikut penasaran. Richard Lee menjalani pemeriksaan lanjutan selama 12 jam penuh. Waktu yang panjang untuk sebuah proses klarifikasi sebagai tersangka.
Selama pemeriksaan itu, situasi disebut berlangsung profesional. Kuasa hukumnya, Jeffry Simatupang, menegaskan bahwa kliennya diperlakukan secara humanis. Hak-haknya dijaga. Prosesnya berjalan sesuai aturan.
Jeffry bahkan menyampaikan bahwa apa yang terjadi di dalam ruang pemeriksaan murni penegakan hukum. Ia memastikan nggak ada praktik “main mata” dengan penyidik dari Ditreskrimsus. Pernyataan itu seperti ingin menutup ruang spekulasi yang mulai liar.
Namun justru di sinilah publik semakin bertanya-tanya. Kalau pemeriksaan berjalan panjang dan serius, kenapa ujungnya tanpa penahanan? Pertanyaan itu juga yang menggantung di benak Doktif.
Menariknya, Doktif sempat menyinggung kondisi fisik Richard Lee saat berada di lokasi. Ia mengaku melihat tim Dokkes melakukan pemeriksaan kesehatan.
Menurutnya, kondisi Richard terlihat kurang fit. Wajahnya tampak kusut dan terkesan tertekan. Dari situ muncul dugaan bahwa faktor kesehatan bisa saja jadi alasan kenapa penahanan nggak dilakukan.
Ia menyebut bahwa sesuai KUHP baru, seorang tersangka memang nggak boleh ditahan jika dalam kondisi sakit. Kalimat itu disampaikannya tanpa nada menyerang, lebih seperti menyusun potongan puzzle yang ia lihat sendiri.
Narasi ini langsung memantik obrolan publik. Ada yang menilai wajar jika kesehatan jadi pertimbangan. Ada pula yang mempertanyakan, seberapa serius kondisi tersebut hingga penahanan urung dilakukan.
Alih-alih terus melempar asumsi, Doktif menyatakan ingin mendengar langsung penjelasan dari Kabid Humas Polda Metro Jaya. Ia bahkan berencana hadir dalam konferensi pers yang dijadwalkan pada 20 Februari 2026.
Ia menyebut masih banyak pertanyaan yang ingin disampaikan secara langsung. Bukan lewat perantara, bukan pula lewat unggahan digital. Ia ingin jawaban yang gamblang. Sikap ini menarik. Di tengah panasnya isu, ia tetap menahan diri.
Ia mengakui kecewa, namun tetap memberi ruang pada klarifikasi resmi. Publik pun menunggu. Apakah alasan kesehatan benar jadi faktor utama? Atau ada pertimbangan lain yang belum diungkap?
Belum selesai soal penahanan, Doktif juga kembali menyinggung legalitas produk yang dijual Richard Lee. Ia menegaskan bahwa BPOM sudah merilis keterangan soal produk DNA salmon yang dinilai nggak sesuai.
Ia menyampaikan bahwa ada produk yang dimasukkan ke dalam jarum suntik. Menurutnya, praktik tersebut berbahaya dan bertentangan dengan aturan. Pernyataan ini mempertegas posisi Doktif sejak awal.
Ia konsisten menyuarakan kekhawatiran soal keamanan produk. Baginya, ini bukan sekadar konflik personal, melainkan isu perlindungan konsumen. Di sisi lain, Richard Lee sebelumnya menyatakan bahwa produknya legal.
Perbedaan klaim ini yang membuat cerita makin bergulir panjang. Publik terbelah antara percaya dan ragu. Namun satu hal yang pasti, isu DNA salmon kembali naik ke permukaan bersamaan dengan kabar pemeriksaan 12 jam itu.
Richard Lee dikenal sebagai figur publik di dunia kecantikan. Klinik Athena yang ia dirikan punya basis pengikut loyal. Setiap kabar tentang dirinya otomatis menarik perhatian luas. Sementara itu, Doktif juga punya pengaruh besar.
Ia kerap tampil vokal mengkritisi praktik yang menurutnya merugikan konsumen. Ketika dua nama ini saling bersinggungan, percikan dramanya memang sulit dihindari. Kondisi Richard yang disebut tampak stres menambah warna tersendiri.
Di mata sebagian orang, itu manusiawi. Tekanan publik dan proses hukum tentu menguras energi. Namun di mata lain, ekspresi tersebut justru jadi bahan spekulasi baru. Karena itu, konferensi pers dari pihak kepolisian jadi momen krusial untuk meredam asumsi.
Kamu mungkin bertanya, kenapa isu ini terus menarik perhatian? Jawabannya sederhana. Kasus ini menyentuh dua hal sensitif, yaitu kesehatan dan kepercayaan. Produk kecantikan langsung bersentuhan dengan tubuh.
Ketika ada dugaan pelanggaran, rasa khawatir otomatis muncul. Apalagi jika yang terlibat adalah figur publik dengan reputasi besar. Di sisi lain, ada unsur dramatis yang sulit diabaikan.
Pernyataan kecewa, dugaan sakit, bantahan kuasa hukum, hingga janji hadir di konferensi pers. Semua elemen ini membentuk alur cerita yang terasa hidup. Namun penting juga untuk menjaga keseimbangan. Informasi yang beredar perlu disaring.
Hingga artikel ini disusun, publik masih menunggu penjelasan detail dari pihak kepolisian. Apakah faktor kesehatan benar jadi alasan utama? Atau ada pertimbangan lain yang lebih teknis?
Doktif sudah menyatakan akan hadir dan menyampaikan pertanyaan langsung. Sikapnya menunjukkan bahwa ia ingin transparansi. Sementara kuasa hukum Richard menegaskan proses berjalan profesional tanpa rekayasa.
Kasus ini jelas belum selesai. Justru di titik inilah ketegangan terasa paling kuat. Publik memegang potongan informasi, sementara potongan lainnya masih tersimpan di balik konferensi pers.
Satu hal yang bisa dipastikan, dinamika antara Doktif dan Richard Lee akan terus jadi sorotan. Selama masih ada perbedaan klaim, gosip akan tetap terbuka.
Sumber: lifestyle.sindonews.com
Richard Lee akhirnya hadir sebagai tersangka. Datang berkemeja putih, ia buka suara soal konflik panas…
Sarwendah resmi pacaran dengan Giorgio Antonio, tapi ia memilih menikmati proses tanpa terburu-buru menikah lagi.
Keputusan besar muncul setelah lama memendam lelah. Bobon akhirnya bicara jujur soal beban di balik…
Empat bulan berjarak, komunikasi buntu. Insan memilih pasrah, Mawa menunggu kepastian sebelum benar-benar melangkah ke…
Fajar akhirnya bicara soal momen diludahi. Ia menilai itu candaan, namun reaksi warganet justru memanas.
Ruang sidang mendadak panas saat Ammar menepis tudingan bandar. Suaranya meninggi, jarinya menunjuk, hakim langsung…