Estimated reading time: 4 minutes

Lambe Katy – Nama Azizah Salsha lagi-lagi masuk radar warganet. Kali ini bukan soal isu lama yang sempat menyeret rumah tangganya, melainkan unggahan terbarunya di Instagram pada 3 Maret 2026. 

Selebgram 22 tahun yang akrab disapa Zize itu membagikan sederet foto saat mengenakan bikini putih, dipadukan celana serta outer transparan bernuansa senada. Dalam caption singkatnya, ia hanya menulis, “At ease (nyaman).” 

Kalimat itu justru memantik gelombang reaksi. Dalam hitungan jam, unggahan tersebut sudah mengumpulkan lebih dari 99 ribu tanda suka. Namun angka itu bukan satu-satunya yang mencuri perhatian. 

Pujian Datang Lebih Dulu

Awalnya, komentar yang muncul terlihat biasa saja. Banyak pengikut setianya memuji penampilan Zize. Ada yang menyoroti kecantikannya yang disebut tetap terpancar meski riasan wajah terlihat minimal. 

Salah satu akun bahkan menulis bahwa tanpa make-up pun ia tetap cantik. Komentar lain menyebut pesona Zize terasa natural dan real. Respons semacam ini sebenarnya sudah akrab bagi seorang influencer dengan jutaan pengikut. 

Setiap unggahan hampir selalu disambut antusias. Apalagi, secara visual foto tersebut memang menampilkan estetika yang rapi, pencahayaan lembut. Namun, suasana kolom komentar berubah ketika sebagian warganet mulai menyoroti konteks waktu unggahan.

Sorotan karena Momentum Ramadhan

Perbincangan mulai mengarah pada satu hal, yaitu foto tersebut diunggah saat bulan puasa. Beberapa akun mempertanyakan kepantasan gaya busana itu ditampilkan di momen yang dianggap sakral bagi banyak orang.

Ada yang menulis, “Apa pantas posting kayak begini di bulan Ramadhan?” Komentar lain bernada lebih keras menyarankan agar unggahan seperti itu ditahan dulu. Bahkan, ada yang secara langsung menyebut bagian tubuh yang dianggap terlalu terekspos dan meminta Zize lebih bijak memilih konten di bulan suci.

Sebagian menyinggung identitas religius, sebagian lagi membawa sentimen moral. Dari situ, unggahan yang awalnya terlihat seperti konten gaya hidup biasa berkembang menjadi topik sensitif.

Zize dan Gaya Ekspresinya

Kalau melihat ke belakang, gaya berpakaian Azizah Salsha memang kerap menampilkan sisi glamor dan modern. Sebagai influencer, ia dikenal aktif membagikan potret traveling, fashion, hingga momen personal.

Bagi sebagian pengikutnya, unggahan bikini bukan hal baru. Namun ketika dipadukan dengan suasana Ramadhan, persepsinya berubah. Di sinilah muncul perbedaan sudut pandang. Ada yang melihatnya sebagai ekspresi diri yang sah. 

Ada pula yang memaknainya sebagai tindakan kurang sensitif terhadap situasi. Zize sendiri dalam unggahan tersebut nggak menyinggung soal bulan puasa. Caption “At ease” justru memberi kesan santai. Seolah ia ingin menegaskan kenyamanan diri tanpa beban.

Bayang-Bayang Isu Lama

Situasi makin memanas karena nama Zize sebelumnya sudah lebih dulu menjadi sorotan publik. Kabar perselingkuhan dan perceraian dengan pesepakbola Pratama Arhan sempat menjadi konsumsi luas di media sosial.

Isu tersebut membuat akun Instagramnya kerap dihujani komentar jahat. Bahkan sebelum unggahan foto bikini ini, kolom komentarnya sering menjadi tempat warganet melampiaskan opini.

Maka ketika unggahan terbaru muncul, sebagian netizen seperti menemukan momentum baru untuk kembali mengkritik. Pola ini menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap figur publik sering dipengaruhi gosip sebelumnya. 

Media Sosial dan Standar Ganda

Fenomena yang dialami Zize sebenarnya mencerminkan sesuatu. Media sosial kerap menghadirkan standar ganda. Di satu sisi, influencer dituntut konsisten dengan citra glamor dan fashionable. 

Di sisi lain, mereka juga diharapkan peka terhadap norma sosial yang berkembang. Banyak figur publik perempuan menghadapi situasi serupa. Unggahan yang dianggap biasa pada hari tertentu bisa berubah menjadi kontroversial, karena konteks waktu atau isu tertentu.

Dalam kasus ini, foto tersebut menjadi bahan diskusi bukan semata karena busana, melainkan karena waktunya. Ramadhan membawa sensitivitas tersendiri bagi sebagian masyarakat.

Persepsi Netizen terhadap Zize

Sebagai individu, tentu ia memiliki hak mengatur kontennya sendiri. Namun sebagai figur publik, setiap unggahan pasti dibaca lebih luas. Apalagi ketika jumlah pengikut mencapai jutaan.

Sebagian warganet mungkin melihat unggahan tersebut sebagai hal wajar. Mereka beranggapan bahwa akun pribadi adalah ruang personal. Namun sebagian lain merasa figur publik memiliki tanggung jawab moral tertentu.

Hingga artikel ini disusun, belum ada klarifikasi khusus dari Azizah Salsha terkait polemik tersebut. Ia juga nggak menghapus unggahan yang dipermasalahkan. Foto tersebut tetap terpajang di feed Instagramnya.

Sikap ini bisa dibaca sebagai keputusan untuk membiarkan opini publik berjalan dengan sendirinya. Alih-alih membalas komentar satu per satu, Zize memilih diam dan fokus pada aktivitas lain.

Warganet Mengkritik Zize dan Menyorotinya

Kasus Zize juga memperlihatkan bagaimana budaya “merujak” di dunia maya semakin lazim. Setiap unggahan figur publik bisa menjadi panggung opini massal. Bahkan komentar yang awalnya ringan bisa berubah jadi personal.

Padahal, di sisi lain, banyak pula warganet yang tetap memberi dukungan. Komentar positif tetap hadir meski tertutup derasnya kritik. Dalam hitungan menit, reputasi bisa dipuji atau dipertanyakan.

Menjadi influencer dengan jutaan pengikut jelas bukan perkara sederhana. Setiap foto, caption, hingga waktu unggah sering dianalisis publik. Tekanan semacam ini jarang terlihat dari luar.

Zize berada di fase hidup yang juga penuh sorotan. Usia muda, popularitas tinggi, dan riwayat pemberitaan yang intens membuat setiap geraknya diperhatikan. Unggahan foto bikini di bulan Ramadhan mungkin terlihat sederhana dari sudut pandangnya. 

Kontroversi yang Berulang

Pada akhirnya, polemik foto seksi Azizah Salsha di bulan Ramadhan menjadi babak baru dalam perjalanan karier digitalnya. Pujian dan hujatan berjalan beriringan. Unggahan yang dimaksud tetap berdiri, sementara opini publik terus bergulir.

Apakah kontroversi ini akan mereda dalam beberapa hari ke depan? Bisa jadi. Namun, satu hal jelas, kisah ini kembali menegaskan bahwa menjadi figur publik berarti siap menghadapi kritikan, bahkan hujatan tanpa henti.

Sumber: celebrity.okezone.com