Estimated reading time: 6 minutes

Lambe Katy – Isu hak asuh anak yang menjadi fokus utama kini diwarnai saling lempar klaim bukti kuat dari kedua belah pihak. Setelah kubu Sarwendah sempat menyinggung soal riwayat medis, pihak Ruben justru tak tinggal diam dan melancarkan serangan balasan cukup menohok.

Panggung pengadilan menjadi tempat pertempuran argumen yang krusial bagi masa depan buah hati mereka. Masing-masing pihak berupaya keras membuktikan kelayakan diri sebagai pemegang hak asuh yang paling sah secara hukum. 

Keterlibatan tim pengacara ternama semakin menambah ketegangan di luar maupun di dalam ruang sidang mediasi. Pembicaraan mengenai pembagian waktu serta nafkah bulanan pun turut menjadi konsumsi netizen yang terus diperbincangkan.

Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, secara terbuka mengisyaratkan bahwa kliennya masih menyembunyikan amunisi yang belum dibeberkan. Langkah ini diambil sebagai bentuk persiapan apabila proses mediasi mengalami kegagalan di tengah jalan. 

Perang Dingin Perebutan Hak Asuh Anak

Pihaknya merasa yakin bahwa seluruh berkas persidangan bakal membalikkan posisi klaim gugatan yang dilayangkan oleh mantan istrinya. Strategi penyampaian bukti ini dirancang sedemikian rupa agar tepat sasaran saat memasuki sidang pokok perkara.

“Ya, adalah buktinya. Artinya, bukti-bukti yang kami keluarkan itu masih belum bukti-bukti yang akan berkaitan langsung dengan gugatan asuh anak,” ujar Minola Sebayang menegaskan kesiapan timnya saat ditemui media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. 

Ia mengimbau agar pihak lawan nggak keburu merasa di atas angin dengan data-data yang beredar saat ini. Nah, sebelum menggali lebih jauh keretakan hubungan, mari cermati poin-poin penting dibalik persidangan Ruben dan Sarwendah.

Fakta Persidangan Ruben dan Sarwendah

Minola Sebayang menegaskan bahwa pihaknya masih menyimpan amunisi bukti tersembunyi yang siap dibuka jika proses mediasi buntu. “Ya, adalah buktinya. Bukti mengisi isi rumah di Cilandak kan enggak ada kaitannya dengan hak asuh anak. 

Artinya, bukti-bukti yang kami keluarkan itu masih belum bukti-bukti yang akan berkaitan langsung dengan gugatan asuh anak,” ungkap Minola. Hakim mediator PN Jakarta Selatan memberikan arahan tegas agar kedua belah pihak menjaga kerahasiaan materi mediasi. 

“Kan sudah disampaikan dalam ruang mediasi, ya. PR itu yang tahu hanya para prinsipal. Bahkan ada permintaan secara tegas oleh mediator itu mengatakan bahwa, ‘Jangan ada keluar sepatah kata pun tentang PR itu dari para kuasa hukumnya’,” tutur Minola.

Pihak Ruben meminta kejelasan pertanggungjawaban penggunaan uang nafkah anak yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. “Uang itu kan hak anak, bukan untuk mantan. Karena banyak juga kasus yang uangnya ternyata digunakan wali, sehingga anak telantar. Jangan bicara kesanggupan. Ruben sanggup! Tapi sanggup enggak dia mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang diberikan Ruben melalui dia untuk kepentingan anak?” selidik Minola tegar.

Absennya Ruben karena Kesibukan Jadwal Kerja

Pada sesi mediasi lanjutan hari Rabu (12 Agustus 2026), Ruben terpaksa berhalangan hadir dan sudah mengirimkan surat pemberitahuan resmi kepada pengadilan. “Ruben tidak bisa hadir karena ada pekerjaan dan kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. 

Agar tidak membuang waktu bagi kedua belah pihak, kita bersurat kemarin ke pengadilan. Jadi secara formalitas, itulah kebiasaan dalam beracara jika salah satu pihak berhalangan,” terang Minola.

Sementara itu, Sarwendah tetap memilih hadir secara konsisten ke pengadilan di tengah kesibukannya mengurus anak-anak di rumah. “Sebagai warga negara yang baik, saya mengusahakan datang ketika mendapatkan surat dari pengadilan. 

Tadi pagi, sebelum ke pengadilan, saya ngurus anak-anak dulu dan mengantarkan mereka ke sekolah. Ini masalah persidangan, bukan soal perasaan. Doakan saja yang terbaik,” tutur Sarwendah tenang.

Sorotan Uang Nafkah Ratusan Juta

Perselisihan hukum berlarut-larut ini nyatanya juga menyentuh persoalan pertanggungjawaban dana pengasuhan anak yang jumlahnya cukup fantastis. Pihak Ruben Onsu menyoroti besaran dana bulanan yang disetorkan rutin untuk kebutuhan buah hatinya. 

Nominal yang dikirimkan berkisar antara Rp200 juta hingga Rp263 juta setiap bulannya, belum termasuk tagihan fasilitas lain. Angka yang terbilang besar ini dirasa perlu mendapatkan kejelasan pengeluaran agar benar-benar tepat sasaran demi anak.

Pengajuan audit keuangan ini dilakukan agar penggunaan dana tersebut memiliki batasan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara sah. Pihak pengacara menegaskan bahwa langkah tersebut diambil bukan karena kliennya nggak sanggup memenuhinya. 

Fokus utamanya murni mengacu pada hak anak yang dilindungi oleh ketentuan hukum negara agar nggak terjadi penyalahgunaan dana oleh pihak pengasuh. Kekhawatiran akan pengalihan fungsi uang nafkah menjadi alasan kuat mengapa isu ini dibawa ke meja hijau.

Ruben Menuntut Transparansi Pengeluaran

Keberanian Ruben dalam meminta rincian pengeluaran tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan netizen yang mengikuti perkembangan gosip ini. Sebagian menilai langkah Ruben wajar sebagai wujud kepedulian terhadap tumbuh kembang anak. 

Namun, ada juga yang beranggapan bahwa tuntutan audit itu berlebihan mengingat Sarwendah selama ini terlihat mandiri dalam mengurus anak. Perbedaan persepsi ini kian memperpanjang daftar kerumitan masalah yang harus diselesaikan oleh hakim.

“Itu belum biaya kartu kredit yang ditagihkan kepada klien kami setiap bulannya. Sehingga wajar rasanya jika Ruben meminta rincian penggunaan semua uang itu. Dia ingin tahu sebenarnya berapa sih biaya anak-anaknya per bulan? 

Seorang ibu yang mendapatkan hak asuh anak, namun tidak bisa bertanggung jawab atas setiap rupiah yang diberikan sang mantan suami, maka bisa dikatakan dia tidak amanah,” tegas Minola membeberkan alasan mendasar permintaan audit tersebut.

Polemik Kebocoran Informasi dan Absen Sidang

Di balik panasnya adu argumen finansial, jalannya proses mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sempat diwarnai sedikit riak kesalahpahaman. Hakim mediator sebenarnya telah mewajibkan kedua pihak menjaga ketat kerahasiaan materi “Pekerjaan Rumah”. 

Namun, kubu Ruben merasa kecewa karena ada pernyataan dari pihak lawan yang terlanjur memberi bocoran materi mediasi kepada wartawan. Tindakan mendahului laporan resmi kepada mediator dianggap kurang etis dalam tata cara bersidang yang tertib.

Kekecewaan tersebut disampaikan terbuka oleh tim hukum Ruben yang merasa aturan mediasi seharusnya dihormati penuh oleh semua kuasa hukum. Pihaknya menilai laporan perkembangan diskusi seharusnya disampaikan dulu di dalam ruang tertutup pengadilan. 

Kejadian ini sempat membuat dinamika komunikasi antara kedua belah pihak sedikit canggung menjelang sidang berikutnya. Meskipun begitu, proses hukum tetap dipaksakan berjalan sesuai koridor formal yang berlaku.

Situasi Ruben Onsu yang Nggak Hadir

Situasi makin menyita perhatian netizen ketika Ruben Onsu berhalangan hadir dalam sesi mediasi lanjutan akibat bentrok dengan jadwal pekerjaan yang tak bisa ditunda. Absennya Ruben sudah diantisipasi dengan penyampaian surat resmi. 

Pada momen yang sama, Sarwendah menunjukkan keteguhannya dengan tetap melangkah hadir mendatangi pengadilan seusai menyelesaikan tugas utamanya mengantar anak sekolah. 

Sikap tenang sang mantan istri memperlihatkan kesiapannya menghadapi segala ketetapan hukum. “Saya enggak mengerti, kenapa kok misalnya ada orang yang kemudian bicara tentang PR-PR, sebelum dia ketemu dengan mediatornya. 

Kenapa orang pertama yang mendapatkan informasi itu bukan mediatornya, tapi kok malahan media yang diinformasikan? Ini kan sebenarnya kami menyayangkan hal-hal seperti itu,” kata Minola mengutarakan kekecewaannya. 

Penantian Keputusan Damai Demi Masa Depan Anak

Masa depan tumbuh kembang buah hati menjadi pertimbangan paling berharga di tengah sengitnya perselisihan dua nama besar ini. Netizen berharap agar ego pribadi masing-masing dapat diredam demi memberikan lingkungan yang aman bagi anak-anak. 

Keputusan final mengenai hak asuh dan skema pengasuhan bersama dinantikan agar polemik ini nggak berlarut-larut tanpa kepastian. Hakim mediator terus berupaya mencari titik temu terbaik yang menguntungkan seluruh anggota keluarga yang terlibat.

Persidangan lanjutan dipastikan bakal menghadirkan pembuktian masing-masing kubu. Netizen kini tinggal menunggu apakah kartu AS yang diklaim pihak Ruben mampu mengubah arah putusan hakim atau justru mediasi berhasil mencetuskan jalan damai. 

Apapun hasil akhirnya kelak, keberanian kedua pihak untuk menyelesaikan masalah secara legal patut dihormati. Mari kita doakan yang terbaik agar permasalahan rumah tangga ini menemukan muara penyelesaian menenangkan bagi semua pihak.

Sumber: sumutpos.jawapos.com