Ramadhan Pertama Tanpa Lula Lahfah, Ayahanda Sulit Melupakan
Daftar Isi
Estimated reading time: 5 minutes
Lambe Katy – Ramadan biasanya identik dengan kehangatan keluarga. Namun, tahun ini, suasana itu terasa berbeda di keluarga mendiang Lula Lahfah. Ayah Lula, Muhammad Feroz, mengakui perasaan itu masih sangat kuat.
Bahkan, hingga Ramadhan tiba, ia dan keluarga masih berusaha menerima kenyataan bahwa Lula sudah nggak lagi bersama mereka. Saat ditemui awak media di kawasan Jakarta Timur pada 5 Maret 2026, Feroz berbicara dengan suara yang terdengar berat.
Ia mengungkapkan bahwa proses mengikhlaskan kepergian anak tercinta memang memerlukan waktu. Menurutnya, sampai hari ini keluarga masih mencoba memahami keadaan.
“Sampai sekarang pun, kami sebenarnya masih belum bisa move on. Saya dan keluarga masih berusaha menerima fakta bahwa Lula sudah nggak ada. Kami masih berusaha ikhlas,” tuturnya pelan.
Momen Ramadhan yang Kini Tinggal Kenangan
Seiring percakapan berlanjut, Feroz sempat menyinggung bagaimana Ramadan dulu selalu memiliki cerita tersendiri bagi keluarganya. Momen sahur hingga berbuka puasa sering kali menjadi waktu paling hangat di rumah.
Lula, menurutnya, selalu membawa energi ceria. Kehadirannya membuat suasana rumah terasa lebih hidup. Karena itu, ketika Ramadhan datang tanpa sosok Lula, perbedaannya terasa jelas. Ada kebiasaan yang hilang, ada tawa yang kini hanya tinggal kenangan.
Feroz mengakui, perasaan itu muncul hampir setiap hari. Ia menyebut suasana keluarga sekarang terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Rasanya seperti ada yang hilang. Keluarga kami nggak lagi lengkap,” ucapnya.
Kenangan Ramadhan yang Sulit Dilupakan
Saat berbicara tentang Lula, Feroz juga sempat mengenang berbagai momen kebersamaan selama bulan puasa. Baginya, Ramadan selalu menyimpan banyak cerita bersama putrinya. Namun ketika diminta menceritakan lebih detail, ia mengaku masih kesulitan mengungkapkan semuanya.
Kenangan itu terasa terlalu pribadi dan emosional. Feroz sempat berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Ia mengatakan bahwa kenangan bersama Lula begitu banyak, bahkan terlalu banyak untuk diceritakan.
“Banyak sekali kenangan sama almarhumah. Sulit bagi saya mengatakan semuanya ke kalian karena saya masih sangat kehilangan. Maaf ya,” ujarnya dengan nada lirih. Ucapan itu membuat suasana percakapan terasa hening sesaat.
Tahlilan 40 Hari
Di tengah suasana duka keluarga, perhatian publik juga sempat tertuju pada momen tahlilan 40 hari wafatnya Lula Lahfah. Acara yang berlangsung pada Kamis, 5 Maret 2026 itu dihadiri oleh kerabat, sahabat, serta beberapa figur publik.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kehadiran Reza Arap. Kedatangannya membuat banyak orang penasaran. Apalagi publik mengetahui bahwa Arap merupakan sosok yang sangat dekat dengan Lula sebelum kepergiannya.
Saat tiba di rumah keluarga Lula, Arap terlihat mengenakan busana panjang berwarna cokelat. Ia datang didampingi asistennya, Cynthia. Meski hadir di acara tersebut, sikap Arap cukup berbeda dibanding tamu lainnya.
Alih-alih duduk bersama para tamu yang mengikuti rangkaian tahlilan, Arap justru memilih berdiri di luar rumah. Ia terlihat memperhatikan jalannya acara dari kejauhan.
Sikap Reza Arap yang Jadi Sorotan
Keputusan Arap untuk berada di luar rumah sempat menimbulkan berbagai spekulasi kecil di antara tamu yang hadir. Namun dari gestur tubuhnya, terlihat bahwa ia berusaha menjaga suasana tetap tenang. Ia tampaknya nggak ingin menjadi pusat perhatian.
Sadar bahwa Arap datang, Feroz kemudian menghampiri calon mantunya itu. Pertemuan mereka berlangsung hangat, bahkan terlihat diwarnai senyum kecil. Keduanya sempat berbincang beberapa saat di halaman rumah.
Feroz kemudian mengajak Arap untuk masuk ke dalam rumah dan ikut bergabung bersama keluarga serta tamu lainnya. “Masuk dulu, masuk dulu, enggak afdol loh,” kata Feroz mencoba mengajak.
Namun Arap menolak secara halus. Ia terlihat tetap berdiri di luar sambil menyalami ayah Lula. “Maafin om,” ujar Arap singkat. Sikapnya menunjukkan rasa hormat sekaligus keinginan untuk menjaga suasana.
Percakapan Singkat
Walau percakapan mereka berlangsung singkat, suasana yang terlihat justru hangat. Beberapa anggota keluarga lain juga sempat menyapa Arap. Salah satu keluarga bahkan meminta Arap sekadar menyampaikan salam kepada ibunda Lula.
“Salam-salam aja Rap, sekadar salam aja,” ujar salah satu anggota keluarga. Arap kemudian mengangguk pelan sambil menyalami Feroz. “Salim udah,” ucapnya. Feroz bahkan sempat mengabadikan kedatangan Arap menggunakan ponselnya. Mereka berdua sempat berfoto bersama. Dalam foto tersebut, Arap terlihat tersenyum tipis.
Pujian dari Ayah Lula
Setelah foto diambil, Arap kembali menyalami Feroz sebelum berpamitan pulang. Ia tampaknya memilih meninggalkan acara lebih awal. Sikap sopan Arap rupanya meninggalkan kesan tersendiri bagi ayah Lula.
Feroz terlihat semringah saat berbicara tentang sikap Arap. Ia bahkan sempat memujinya secara langsung. “Orang baik nih,” kata Feroz sambil tersenyum. Arap kemudian membalas dengan ucapan sederhana sebelum pergi. “Semangat om,” ucapnya.
Kepergian Lula yang Mengguncang Publik
Kematian Lula Lahfah memang mengejutkan banyak orang. Ia ditemukan meninggal dunia pada 23 Januari 2026 di kamar apartemennya di kawasan Essence Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Peristiwa itu terjadi pada Jumat malam sekitar pukul 18.44 WIB.
Kabar tersebut dengan cepat menyebar dan memicu berbagai spekulasi di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan penyebab kematiannya, apalagi usia Lula masih sangat muda. Situasi itu membuat pihak kepolisian turun tangan untuk melakukan penyelidikan.
Proses Penyelidikan Polisi
Selama proses penyelidikan berlangsung, sejumlah pihak dimintai keterangan, termasuk Reza Arap. Hal ini karena Arap merupakan orang pertama yang membawa Lula setelah ditemukan terkapar di dalam kamar.
Pemeriksaan tersebut sempat menjadi sorotan publik. Namun setelah serangkaian penyelidikan dilakukan, pihak kepolisian akhirnya memberikan penjelasan resmi.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Mohamad Iskandarsyah, menyampaikan bahwa penyelidikan sudah dilakukan secara maksimal. Menurutnya, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kematian Lula bukan akibat tindak pidana.
Ia menjelaskan bahwa pihak kepolisian akhirnya menghentikan proses penyelidikan. “Kami sudah melakukan penyelidikan secara maksimal. Saya rasa cukup, bahwa nggak ditemukan peristiwa pidana dan kita harus melaksanakan penghentian penyelidikan,” ujarnya.
Luka yang Masih Terasa
Meski proses hukum sudah selesai, bagi keluarga Lula cerita tersebut tentu belum benar-benar berakhir. Kehilangan anak merupakan pengalaman yang sangat berat bagi orangtua.
Feroz pun mengakui bahwa proses menerima kenyataan ini masih berjalan. Ia hanya berharap Lula mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Doa menjadi satu-satunya cara bagi keluarga untuk menenangkan hati.
Di tengah suasana Ramadan yang seharusnya penuh kebahagiaan, keluarga Lula justru menjalani bulan suci dengan perasaan yang berbeda. Namun dari cara Feroz berbicara, terlihat bahwa ia berusaha tetap kuat.
Sumber: www.grid.id
