Estimated reading time: 3 minutes

Lambe Katy – Ruang sidang biasanya identik suasana tegang, tetapi tetap terkendali. Orang berbicara bergantian. Semua mengikuti aturan. Namun, pada Kamis siang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ritme itu sempat berubah drastis.

Kamu bisa membayangkan bagaimana sorot mata langsung tertuju pada satu titik ketika suara Ammar Zoni naik. Ia berdiri dari tempatnya. Emosi terlihat jelas. Momen tersebut muncul setelah seorang saksi dari kepolisian menyampaikan pernyataan yang membuatnya merasa disudutkan.

Pernyataan Saksi Menjadi Pemantik

Awalnya agenda berlangsung seperti biasa. Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi verbal, Kepala Unit Reskrim Polsek Cempaka Putih, AKP Yossy Januar. Ia diminta menjelaskan apa yang diketahui dalam perkara dugaan peredaran narkotika yang menyeret nama Ammar.

Suasana masih relatif tenang. Sampai akhirnya muncul satu kalimat yang terdengar berat. Dalam keterangannya, Yossy menilai Ammar termasuk bandar yang mempekerjakan kurir di Rutan Salemba.

Kata “bandar” itulah yang seperti menyentuh titik paling sensitif. Dari kursinya, Ammar terlihat menahan diri. Tetapi semakin lama ia mendengarkan, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam mengarah ke depan. 

Ammar Bangkit dari Kursi

Begitu diberi kesempatan merespons, Ammar langsung berbicara. Nadanya tinggi. Kalimatnya cepat. Ia seperti ingin memastikan semua orang mendengar versinya. Ammar mempertanyakan dasar tudingan tersebut. 

Menurutnya, sejak awal ia sudah menjelaskan posisinya dalam berita acara pemeriksaan. Ia merasa hanya ditawari sesuatu, bukan menjadi pengendali. Dalam luapan itu, ia menegaskan bahwa angka Rp300 juta pernah disebut sebagai tawaran damai atau rehabilitasi. 

Baginya, pernyataan saksi yang menyebut dirinya bandar bertolak belakang dengan apa yang ia sampaikan sejak awal. Saat berbicara, tangannya terangkat. Jarinya menunjuk ke arah saksi.

Ruang Sidang Hampir Kehilangan Kendali

Ketika dua pihak sama-sama keras, percikan kecil mudah berubah api. Beberapa orang yang hadir mulai bereaksi. Ada yang menggeleng, bahkan hingga menatap tegang ke arah hakim.

Ammar tetap pada pendiriannya. Ia mengulang bahwa dirinya merasa difitnah melalui label bandar. Ia kembali menyinggung tawaran uang yang menurutnya pernah diminta. Melihat keadaan mulai sulit dikendalikan, Ketua Majelis Hakim Dwi Elyarahma mengambil alih.

Palu diketuk. Hakim mengingatkan bahwa siapa pun boleh menyampaikan pendapat, tetapi keputusan tetap berada di tangan pengadilan. Intinya sederhana. Jika terdakwa merasa keberatan, bantahan dicatat.

Dalam arahan itu, hakim memastikan kembali posisi Ammar. Apakah benar ia membantah disebut bandar? Jawaban Ammar tegas. Ia memastikan bahwa tudingan tersebut menurutnya keliru.

Tuduhan Balik yang Lebih Tajam

Alih-alih berhenti, Ammar melanjutkan pernyataannya. Ia menyebut bahwa saat proses interogasi, terjadi tindakan yang menurutnya berupa kekerasan terhadap para terdakwa. Ucapannya mengarah langsung kepada saksi yang berdiri di hadapannya. 

Ia juga kembali menyentuh isu permintaan uang ratusan juta rupiah. Dalam versinya, permintaan itu nyata dan disampaikan di depan banyak orang. Beberapa pengunjung terlihat makin serius menyimak. 

Sebagai figur publik, apa pun yang keluar dari mulut Ammar cepat menjadi perhatian. Gestur menunjuk wajah saksi pun langsung ramai dibicarakan. Bagi sebagian orang, itu bentuk kemarahan yang manusiawi. 

Bagi yang lain, tindakan tersebut dianggap terlalu jauh. Namun satu hal pasti, momen itu membuat persidangan hari itu meninggalkan kesan kuat. Berita mengenai sidang ini menyebar cepat. Banyak orang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. 

Ammar dan Upaya Membersihkan Nama

Di balik nada tinggi dan gestur keras, terlihat satu hal yang konsisten. Ammar ingin suaranya terdengar. Ia ingin publik tahu bahwa ia punya bantahan. Ia mencoba meyakinkan bahwa label yang diberikan kepadanya nggak sesuai dengan pengakuannya sejak awal. 

Itulah benang merah dari semua ucapannya. Upaya tersebut terasa begitu personal. Ia berbicara sebagai seseorang yang merasa harga dirinya dipertaruhkan. Nah, tentu kamu bisa memahami kenapa reaksinya meledak.

Setelah hakim menenangkan keadaan, proses kembali berjalan. Namun atmosfernya sudah berbeda. Ketegangan tadi meninggalkan jejak. Orang-orang pulang membawa cerita. Peristiwa ini mungkin hanya satu bagian dari rangkaian panjang persidangan. 

Penutup

Persidangan selalu menghadirkan dua sisi cerita. Pada hari itu, Ammar menunjukkan versinya secara terang-terangan. Emosi, bantahan, sampai tuduhan balik keluar tanpa jeda panjang.

Kamu melihat manusia yang sedang berjuang mempertahankan pandangannya di ruang yang penuh tekanan. Entah bagaimana akhir semuanya, adegan tersebut sudah terlanjur melekat di ingatan banyak orang.

Sumber: www.inews.id