Kuasa Hukum Bantah Perintah Virgoun Soal CCTV
Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Nama Virgoun kembali ramai dibicarakan. Kali ini bukan soal lagu, melainkan perkara rekaman CCTV di rumah mantan istrinya, Inara Rusli. Isunya cepat menyebar. Timeline media sosial langsung panas. Banyak yang bertanya-tanya, benarkah ada instruksi khusus dari sang musisi kepada sopir untuk mengambil rekaman itu?
Di tengah derasnya asumsi, muncul penjelasan dari pihak yang mendampingi sopir bernama Agung. Pernyataan ini pelan-pelan mengubah arah cerita. Narasinya menjadi lebih utuh. Kamu pun akhirnya bisa melihat duduk perkara dengan sudut pandang yang lebih terang.
Awal Mula Nama Virgoun Terseret
Cerita berkembang ketika publik mengetahui bahwa rekaman CCTV di kediaman Inara sempat diambil oleh Agung. Fakta bahwa Agung menerima gaji dari Virgoun langsung memantik kecurigaan. Warganet menghubungkan dua hal itu dalam satu tarikan napas.
Logika sederhana pun muncul. Kalau digaji oleh mantan suami, berarti mungkin saja ada perintah. Dugaan seperti ini cepat sekali menyebar. Apalagi situasinya memang sensitif sejak perceraian keduanya menarik perhatian luas.
Penjelasan dari Pihak Sopir
Sukardi Amir, selaku kuasa hukum Agung, berbicara dengan nada tegas namun terukur. Ia menyampaikan bahwa sampai pemeriksaan terakhir, belum ditemukan adanya instruksi dari Virgoun kepada kliennya.
Dalam penuturannya, ia menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan saksi, pihaknya sejauh ini belum melihat keterlibatan langsung. Ia bahkan menegaskan mereka masih menunggu perkembangan di persidangan apabila nantinya muncul fakta baru.
Kalimat itu penting. Artinya proses masih berjalan. Belum ada kesimpulan final. Di momen ini, arah pembicaraan mulai bergeser. Dari dugaan personal menjadi persoalan pembuktian.
Dari Suara Aneh Menuju Rekaman
Lalu kenapa Agung sampai membuka dan mengambil rekaman CCTV? Sukardi memberi gambaran yang cukup jelas. Semua bermula dari laporan asisten rumah tangga yang mendengar suara mencurigakan di lantai tiga.
Situasi itu memicu kekhawatiran. Dalam kondisi seperti itu, pengecekan dianggap perlu. Agung kemudian memeriksa rekaman sebagai bentuk verifikasi. Kurang lebih sifatnya memastikan keadaan. Apakah ada sesuatu yang memang terjadi, atau hanya salah dengar.
Penjelasan ini menempatkan tindakan tersebut sebagai respons terhadap laporan, bukan langkah sepihak tanpa alasan. Dan dari sini, cerita bergerak lagi ke bagian yang sering luput diperhatikan.
Peran Agung Selama Ini di Rumah
Banyak orang mungkin baru mengenal nama Agung ketika kasus ini muncul. Padahal ia sudah bekerja sekitar empat tahun. Perannya pun bukan sekadar mengemudi.
Ia disebut sering dipercaya menangani urusan teknis di rumah, termasuk sistem CCTV. Bahkan sebelum polemik terjadi, Inara pernah memintanya memperbaiki beberapa unit kamera pengawas.
Artinya akses terhadap perangkat tersebut memang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya sejak lama. Bukan hal baru yang muncul tiba-tiba. Fakta ini membuat sudut pandang menjadi lebih luas.
Titik yang Dianggap Perlu Dilihat Objektif
Dalam lanjutan keterangannya, kuasa hukum Agung sempat menyinggung satu hal menarik. Ia mempertanyakan fokus persoalan sebenarnya. Apakah yang dipermasalahkan aksesnya, atau isi rekamannya?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun maknanya dalam. Sebab dua hal itu berbeda. Seseorang bisa saja memiliki kewenangan membuka perangkat, sementara substansi rekaman menjadi ranah lain yang memerlukan pembahasan berbeda.
Dengan membawa isu ke wilayah objektivitas, Sukardi seakan mengajak publik untuk menahan diri sebelum menarik simpulan terlalu jauh. Apalagi perkara masih bergulir.
Publik Berspekulasi
Dalam kasus yang melibatkan figur terkenal, arus opini biasanya berjalan lebih cepat dibanding klarifikasi. Potongan informasi mudah dipelintir. Narasi bisa berubah hanya karena satu asumsi.
Kondisi itulah yang kini terjadi. Nama Virgoun sudah telanjur disebut di banyak percakapan. Padahal menurut pihak yang mendampingi saksi, bukti langsung mengenai perintah itu belum ditemukan.
Di sinilah pentingnya menunggu. Sebab setiap proses hukum membutuhkan waktu untuk menyusun kepingan fakta satu per satu. Dan sambil menunggu, klarifikasi tetap menjadi pegangan paling masuk akal.
Menanti Fakta di Persidangan
Sukardi menutup penjelasannya dengan sikap yang relatif terbuka. Ia menyatakan perkembangan ke depan tentu akan mengikuti apa yang muncul di persidangan. Bila ada data baru, maka semua pihak siap melihatnya.
Pernyataan ini memberi ruang bahwa cerita belum selesai. Namun sampai hari ini, posisi yang mereka pegang tetap sama. Belum ada keterlibatan langsung dari Virgoun terhadap pengambilan rekaman.
Situasi yang Masih Berjalan
Kasus ini masih berjalan. Informasi bisa bertambah. Sudut pandang mungkin berubah seiring waktu. Namun untuk saat ini, itulah gambaran yang tersedia dari pihak yang berbicara resmi.
Kamu tentu bebas mengikuti perkembangannya. Tetapi memahami urutan peristiwa membantu melihat persoalan secara lebih jernih. Dari laporan suara, tindakan pengecekan, hingga isu instruksi, semuanya punya konteks.
Pada akhirnya, gosip memang menarik perhatian. Apalagi ketika menyangkut nama besar. Namun di balik sensasinya, ada proses yang membutuhkan ketelitian. Klarifikasi demi klarifikasi perlahan membangun cerita yang lebih lengkap.
Sumber: www.rctiplus.com
