Estimated reading time: 4 minutes

Lambe Katy – Dunia hiburan kembali dibuat terdiam. Jumat, 23 Januari 2026, menjadi hari yang meninggalkan bekas panjang bagi banyak orang, terutama mereka yang pernah mengenal Lula Lahfah secara dekat. 

Di usia 26 tahun, selebgram yang dikenal ceria dan hangat itu ditemukan telah berpulang di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan. Kepergiannya datang tanpa hiruk pikuk, justru menghadirkan sunyi yang menekan dada.

Kabar itu menyebar cepat, namun rasa percaya seolah tertinggal di belakang. Banyak yang masih merasa Lula baru saja mengunggah cerita, baru saja bercanda, baru saja hadir sebagai dirinya yang biasa. 

Salah satu sosok publik yang ikut merasakan hentakan itu adalah Raffi Ahmad. Sebagai figur yang sudah lama berkecimpung di dunia hiburan, Raffi tentu terbiasa menghadapi kabar duka.

Unggahan Raffi yang Penuh Rasa

Melalui akun Instagram pribadinya, Raffi Ahmad mengunggah potret kebersamaannya dengan Lula Lahfah di sebuah acara. Bukan foto yang dibuat dramatis, melainkan potret sederhana yang justru memperkuat pesan di baliknya. 

Dalam keterangan foto itu, Raffi menuliskan kalimat yang pelan, jujur, dan terasa keluar dari hati. Ia menyebut Lula sebagai orang baik, bahkan menegaskan kebaikan itu dengan pengulangan yang seolah spontan. 

Raffi menggambarkan Lula sebagai pribadi yang tulus dan hangat, sosok sederhana yang kehadirannya selalu meninggalkan kesan baik bagi banyak orang. Cara Raffi menyusun kata-katanya terasa seperti sedang berbicara langsung, bukan sekadar menulis untuk publik.

Sosok Sederhana yang Diam-Diam Berarti

Dalam dunia hiburan yang sering penuh sorotan dan kebisingan, sosok sederhana justru sering menjadi yang paling dirindukan. Raffi Ahmad menegaskan hal itu lewat ceritanya tentang Lula. Ia mengenal Lula sebagai pribadi yang nggak banyak tuntutan, nggak berisik, tapi selalu meninggalkan kesan.

Kehadiran Lula, menurut Raffi, terasa tenang. Bukan tipe yang mencuri perhatian dengan suara keras, melainkan hadir lewat sikap dan cara memperlakukan orang lain. Di lingkungan hiburan yang serba cepat dan kompetitif, karakter seperti ini terasa langka.

Narasi ini membuat publik mulai melihat Lula dari sudut yang lebih dalam. Bukan sekadar selebgram atau tunangan figur publik, melainkan manusia dengan kehangatan yang nyata. Nah, kehangatan itu rupanya tinggal di ingatan mereka yang pernah bersentuhan langsung.

Melayat dan Duka yang Terasa Nyata

Unggahan Raffi nggak berhenti pada kenangan. Ia juga membagikan pengalamannya saat melayat langsung ke rumah duka. Di sana, suasana kehilangan terasa begitu kental. Raffi menggambarkan kesedihan yang hening, doa-doa yang mengalir pelan, serta rasa kehilangan yang benar-benar hidup di hati keluarga dan kerabat.

Banyak orang menangis. Banyak doa dipanjatkan. Semua hadir dengan satu rasa yang sama: kehilangan sosok yang mungkin nggak selalu tampil di layar kaca, tapi kehadirannya nyata dalam kehidupan banyak orang.

Raffi menyebut ada hal-hal kecil yang terasa tertinggal. Sikap Lula, kebaikannya, cara ia hadir dengan tenang. Hal-hal sederhana yang mungkin sering luput disadari saat seseorang masih ada, namun justru paling terasa ketika ia pergi.

Jejak Kebaikan yang Nggak Hilang

Bagian paling menyentuh dari cerita Raffi adalah ketika ia menyinggung tentang hal-hal kecil yang tertinggal. Hal ini bukan tentang pencapaian besar atau popularitas, melainkan tentang sikap sehari-hari. Tentang cara Lula bersikap, berbicara, dan hadir tanpa banyak tuntutan.

Raffi menyiratkan bahwa kebaikan Lula nggak pernah dibuat-buat. Ia hadir apa adanya. Dan justru karena itulah, ingatan tentang Lula terasa begitu kuat. Bukan ingatan yang bising, melainkan yang diam-diam menetap.

Di dunia yang sering menilai seseorang dari sorotan dan angka, kisah ini seperti pengingat bahwa yang paling bertahan justru hal-hal sederhana. Cara memperlakukan orang, ketulusan, dan kehangatan yang nggak dipaksakan.

Reaksi Publik dan Lingkar Terdekat

Unggahan Raffi Ahmad pun langsung dibanjiri komentar. Banyak yang mengungkapkan rasa duka, banyak pula yang membagikan pengalaman singkat mereka tentang Lula. Dari sana, terlihat satu pola yang sama, yaitu Lula dikenang sebagai sosok baik.

Bukan hanya dari satu pihak, tapi dari berbagai lingkaran. Teman, rekan, hingga orang-orang yang pernah berinteraksi singkat dengannya. Semua menyebutkan hal serupa, Lula adalah pribadi yang menyenangkan dan tulus.

Di titik ini, gosip yang muncul bukan soal kontroversi, melainkan soal kenangan. Sebuah bentuk gosip yang lebih manusiawi, di mana publik diajak mengenal seseorang dari sisi yang jarang disorot, yakni sifat dan sikap semasa hidup.

Kepergian di Usia Muda

Lula Lahfah menghembuskan napas terakhirnya di usia 26 tahun. Usia yang bagi banyak orang masih identik dengan rencana, mimpi, dan langkah panjang ke depan. Fakta ini membuat rasa kehilangan terasa berlipat.

Raffi Ahmad, lewat tulisannya, seolah ingin menegaskan bahwa kepergian Lula meninggalkan ruang kosong yang nyata. Bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi mereka yang pernah mengenalnya, bahkan dalam lingkar profesional.

Doa yang Raffi panjatkan pun sederhana namun penuh makna. Ia berharap Lula diberi ketenangan dan mendapatkan tempat terbaik. Kalimat itu terasa sebagai penutup yang lembut, tanpa dramatisasi berlebihan.

Semuanya Tinggal Kenangan

Kepergian Lula Lahfah memang meninggalkan duka. Namun lewat cerita Raffi Ahmad, publik diajak melihat bahwa Lula juga meninggalkan sesuatu yang lebih abadi, yaitu kenangan baik. 

Kenangan tentang ketulusan, kehangatan, dan kesederhanaan yang nggak dibuat-buat. Lula Lahfah mungkin telah berpulang. Namun cerita tentang kebaikannya, seperti yang dibagikan Raffi Ahmad, akan terus tinggal di ingatan banyak orang.

Sumber: www.viva.co.id