Wardatina Mawa Diminta Balikan Demi Anak, Begini Reaksinya
Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Nama Wardatina Mawa kembali ramai diperbincangkan setelah akhirnya bertemu langsung dengan Insanul Fahmi pada Kamis, 14 Januari lalu. Di ruangan tersebut, Insanul dipertemukan kembali dengan putra mereka, Afnan.
Sejak awal, publik sudah menaruh rasa penasaran besar. Banyak yang bertanya-tanya, apakah pertemuan itu akan melunakkan hati Mawa? Apakah tangisan dan penyesalan akan membuka peluang rujuk, apalagi jika membawa-bawa nama anak?
Tangisan yang Tak Menggugurkan Keteguhan
Dalam pertemuan itu, Mawa menceritakan bagaimana Insanul Fahmi menyampaikan permintaan maafnya. Ia menangis sambil memeluk Afnan, menunjukkan penyesalan yang selama ini hanya terdengar lewat kabar.
Suasana disebut cukup emosional, terutama saat Insanul mengaitkan tangisannya dengan harapan bisa kembali bersatu demi sang anak. Alih-alih luluh, Mawa justru bereaksi dingin. Menurut pengakuannya, hatinya sudah berada di titik yang berbeda.
Ia bahkan secara spontan melontarkan satu pertanyaan yang langsung menusuk inti persoalan, apa itu? Jadi, apakah saat semua perbuatan itu terjadi, anak pernah benar-benar ada dalam pikiran Insanul?
Bukan Tak Sakit, tapi Sudah Terlalu Kuat
Banyak yang mengira sikap dingin Mawa muncul karena rasa sakitnya sudah habis. Namun lewat keterangannya, Mawa justru menegaskan hal sebaliknya. Luka itu masih ada, hanya saja ia merasa sudah dikuatkan untuk berdiri di atasnya.
Ia menyebut kekuatan itu datang dari Tuhan. Bukan sekadar kalimat religius, melainkan refleksi dari perjalanan batin yang panjang. Fokusnya kini bukan lagi pada masa lalu atau permintaan maaf yang datang terlambat, tapi pada masa depan Afnan yang harus dijaga.
Ajakan Balikan yang Tak Mengubah Prinsip
Permintaan Insanul untuk kembali bersatu demi anak menjadi bagian yang paling banyak disorot. Dalam banyak kasus, narasi “demi anak” sering kali menjadi kartu pamungkas yang cukup ampuh. Namun bagi Mawa, kalimat itu justru terasa terlambat.
Alih-alih melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab, Mawa memandang ajakan tersebut sebagai refleksi dari keputusan-keputusan masa lalu yang nggak mempertimbangkan dampaknya pada anak.
Baginya, rujuk bukan solusi instan untuk luka panjang yang sudah terbentuk. Sikap ini menunjukkan bahwa Mawa nggak ingin masa depan Afnan dibangun di atas pondasi yang rapuh.
Dua Syarat yang Menjadi Batas
Meski terlihat dingin, Mawa nggak sepenuhnya menutup pintu komunikasi. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan dua syarat jika Insanul ingin berdamai dengannya, khususnya terkait dugaan perselingkuhan dan perzinaan yang selama ini mencuat ke publik.
Syarat pertama cukup jelas dan berat: Insanul diminta meminta maaf secara terbuka di depan awak media, bukan hanya kepada Mawa, tapi juga kepada keluarganya. Bagi Mawa, permintaan maaf harus sebanding dengan dampak yang sudah dirasakan.
Syarat kedua bahkan lebih spesifik. Insanul diminta menunjukkan bukti pernikahan siri dengan Inara Rusli, yang diklaim terjadi pada 7 Agustus 2025. Permintaan ini adalah bentuk tuntutan kejelasan atas apa yang selama ini hanya menjadi klaim sepihak.
Nama Inara yang Kembali Terseret
Tak bisa dimungkiri, pertemuan ini kembali menyeret nama Inara Rusli ke dalam pusaran gosip. Fakta bahwa Insanul disebut menikah siri dengan Inara membuat publik makin bertanya-tanya soal kronologi sebenarnya.
Mawa sendiri memilih bersikap lugas. Ia nggak memperpanjang spekulasi, tapi menuntut bukti konkret. Sikap ini memperlihatkan bahwa ia sudah berada di fase yang lebih rasional, di mana emosi nggak lagi menjadi pengendali utama.
Reaksi Publik yang Terbelah
Kisah ini langsung memancing reaksi beragam. Ada yang memuji keteguhan Mawa sebagai ibu yang memilih berpikir jangka panjang. Ada pula yang merasa iba pada Insanul, melihat tangisannya sebagai bentuk penyesalan yang tulus.
Namun, di tengah pro dan kontra itu, satu hal yang menonjol adalah konsistensi sikap Mawa. Ia nggak terbawa arus simpati publik, nggak pula memanfaatkan situasi untuk mencari pembenaran. Fokusnya tetap sama, yaitu Afnan dan masa depannya.
Ia memilih menahan diri, menjaga emosi, dan memprioritaskan masa depan anak. Mawa nggak menampilkan dirinya sebagai korban yang terus menangis, tapi sebagai individu yang sudah bangkit, meski bekas lukanya masih terasa.
Maaf dan Tanggung Jawab
Permintaan maaf selalu terdengar indah, apalagi ketika dibalut air mata. Namun, bagi Mawa, maaf harus datang bersama tanggung jawab. Bukan hanya kata-kata, tapi juga tindakan nyata.
Dua syarat yang ia ajukan menunjukkan bahwa ia ingin penyelesaian yang jelas, bukan sekadar damai di permukaan. Sikap ini memberi pesan kuat bahwa berdamai bukan berarti melupakan, melainkan menata ulang batas dengan lebih sehat.
Kesimpulan
Pertemuan antara Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi meninggalkan banyak kesan. Bukan karena tangisan atau ajakan rujuknya, melainkan karena reaksi Mawa yang begitu tenang dan tegas.
Ia menunjukkan bahwa kekuatan seorang ibu nggak selalu hadir dalam bentuk amarah atau air mata. Kadang, kekuatan itu justru terlihat dari keputusan yang diambil dengan kepala dingin.
Di tengah hiruk-pikuk gosip, kisah ini menjadi pengingat bahwa ada luka yang nggak bisa disembuhkan hanya dengan kata demi anak. Nah, bagi Mawa, menjaga masa depan Afnan berarti berdiri teguh, meski harus menolak ajakan yang datang dengan tangisan.
Sumber: www.grid.id
