Insanul Siap Bersujud ke Mawa, Inara Ingin Damai
Daftar Isi
Estimated reading time: 4 minutes
Lambe Katy – Nama Inara Rusli kembali mencuri perhatian publik. Kali ini bukan soal masa lalunya, melainkan konflik rumit yang menyeretnya bersama Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa. Di tengah ramainya perbincangan soal nikah siri, Inara justru memilih jalan yang lebih tenang.
Ia ingin berdamai. Inara secara terbuka menyampaikan harapannya untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Mawa dan mencari titik temu agar semuanya selesai tanpa drama berkepanjangan. Sayangnya, niat tersebut justru berhadapan dengan masalah.
Inara Rusli dan Cara Pandangnya soal Konflik
Bagi Inara, persoalan yang terjadi sejak awal ia anggap sebagai masalah internal keluarga. Bukan sesuatu yang harus melebar ke mana-mana. Ia menilai musyawarah dan komunikasi terbuka seharusnya jadi pintu pertama sebelum melangkah lebih jauh.
Saat ditemui di Bareskrim Polri, Inara menyampaikan dengan nada tenang bahwa konflik ini semestinya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia merasa pendekatan damai lebih relevan dibandingkan saling serang lewat jalur hukum atau media sosial.
Sikap ini menunjukkan posisi Inara yang ingin menjaga situasi tetap kondusif. Ia nggak datang dengan emosi meledak-ledak, tapi dengan keinginan sederhana, yaitu hidup tenang tanpa konflik berkepanjangan.
Restorative Justice Jadi Jalan Tengah
Sebagai bukti keseriusan, Inara dan Insanul sudah mengajukan restorative justice atau RJ. Langkah ini dikenal sebagai upaya penyelesaian konflik melalui mediasi antara pihak-pihak yang terlibat. Tujuannya jelas, mencari solusi damai tanpa memperkeruh suasana.
Bagi Inara, RJ bukan sekadar formalitas. Nah, ini tentunya adalah wujud itikad baik. Ia ingin semua pihak duduk bersama, berbicara, dan menyelesaikan masalah tanpa saling menjatuhkan.
Namun, harapan itu belum menemukan sambutan. Hingga kini, komunikasi dengan Mawa belum juga terjalin. Tak ada balasan, respons, bahkan jalur komunikasi pribadi terasa tertutup rapat.
Upaya Komunikasi yang Berujung Buntu
Inara secara jujur mengakui kesulitannya menjalin komunikasi dengan Mawa. Ia bahkan menyebut dirinya nggak memiliki kontak langsung. Akun media sosialnya pun diblokir, membuat niat baik untuk berdamai terasa seperti berjalan di lorong gelap.
Situasi ini membuat Inara berada di posisi serba salah. Di satu sisi ingin menunjukkan itikad baik, di sisi lain bingung harus memulai dari mana. Ia merasa upaya damai yang ia tawarkan seperti menggema tanpa jawaban.
Nada kecewa itu terasa saat Inara menyampaikan bahwa baik dirinya maupun Insanul sudah mencoba membuka ruang dialog, namun hasilnya nihil. Di tengah kebuntuan tersebut, nama Insanul Fahmi ikut menjadi sorotan.
Kuasa hukum Insanul, Tommy Tri Yunanto, mengungkapkan bahwa kliennya siap bersujud di hadapan Mawa. Sebuah gestur yang jarang terdengar, apalagi di tengah konflik sensitif seperti ini. Sikap ini disebut sebagai bentuk tanggung jawab dan penyesalan.
Status Istri Sah yang Masih Melekat
Salah satu aspek yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah status Mawa sebagai istri sah Insanul. Fakta ini masih melekat kuat dan menjadi dasar emosi dalam konflik yang terjadi.
Inara sendiri menyadari posisi tersebut. Ia bahkan menyayangkan kondisi di mana Insanul sebagai suami sah pun kesulitan mendapatkan respons. Setiap upaya komunikasi justru berakhir dengan unggahan di media sosial, bukan dialog langsung.
Kondisi ini membuat ruang damai semakin sempit. Alih-alih bertemu dan berbicara, persoalan justru berputar di ranah publik, memancing opini dan spekulasi dari berbagai arah.
Insanul disebut sudah lama berupaya menjalin komunikasi. Keinginannya sederhana, bertemu, berbicara, dan menyelesaikan masalah tanpa kebisingan publik. Namun, seperti Inara, upaya tersebut juga belum menemukan titik terang.
Harapan Inara, Tenang dan Selesai Baik-Baik
Di balik semua kerumitan, Inara tetap konsisten dengan harapannya. Ia ingin proses ini berjalan lancar dan damai. Bukan kemenangan satu pihak, tapi penyelesaian yang membuat semua bisa melanjutkan hidup tanpa beban.
Ia menegaskan bahwa tujuannya bukan mencari sensasi. Inara hanya ingin ketenangan. Baginya, hidup yang damai jauh lebih berharga dibandingkan konflik. Ia nggak menyudutkan, tapi terus membuka pintu dialog meski berkali-kali tak mendapat balasan.
Ketika Niat Baik Tak Selalu Berbalas
Kasus ini memperlihatkan satu hal penting: niat baik nggak selalu langsung bertemu jalan mulus. Ada kalanya upaya damai justru terhambat oleh diam, jarak, dan emosi yang belum reda.
Publik pun terbagi. Ada yang menilai langkah Inara dan Insanul sebagai bentuk kedewasaan. Ada pula yang mempertanyakan mengapa komunikasi terasa begitu sulit. Semua opini itu berseliweran, menambah panas situasi.
Sikap Insanul yang disebut rela bersujud, Inara yang terus mengedepankan damai, serta Mawa yang memilih diam menjadi kombinasi dramatis yang sulit diabaikan. Namun di balik sensasi, ada sisi manusiawi yang jarang disorot.
Tentang ego yang diturunkan, keinginan hidup tenang, dan upaya memperbaiki keadaan meski jalan terasa berat. Publik boleh berspekulasi, tapi pada akhirnya yang menjalani adalah mereka sendiri.
Menunggu Jawaban Pasti
Hingga kini, upaya damai itu masih menggantung. Inara dan Insanul sudah melangkah sejauh mungkin untuk membuka pintu komunikasi. Tinggal menunggu apakah pintu itu akan dibuka dari sisi seberang.
Apakah Mawa akan merespons? Apakah dialog akhirnya terjadi? Semua masih jadi tanda tanya. Yang jelas, niat untuk berdamai sudah dinyatakan secara terbuka.
Dan di tengah sorotan publik, satu harapan terus diulang: semoga semuanya bisa selesai dengan kepala dingin, tanpa saling melukai, dan tanpa konflik berkepanjangan yang menguras emosi.
Sumber : www.detik.com
